6 Objek Wisata Sinjai yang Wajib Kamu Kunjungi

Apa sih yang menarik di Sinjai? Apa saja obyek wisatanya yang wajib dikunjungi?

Sudah seringkali saya mendapat pertanyaan-pertanyaan seperti di atas dari teman maupun kerabat. Dan sesering itu pula saya berkoar-koar tentang apa saja yang  ada di Sinjai. Sebenarnya Sinjai punya banyak potensi wisata, bukan hanya wisata alam yang memukau pun wisata kulinernya yang selalu menggugah selera dan menaikkan berat badan. eh!

Sinjai adalah salah satu kabupaten yang berada di timur kota Makassar. Kabupaten kecil yang mempunyai  topografi perpaduan pegunungan dan laut. Pantaslah kalau Sinjai mempunyai keindahan laut dan pantai serta aneka olahan lautnya. Sinjai tak hanya punya pantai dan laut, masih banyak potensi wisata alam lainnya. Harus diakui, potensi-potensi itu belum terlalu populer seperti destinasi-destinasi wisata lainnya yang ada di Sulawesi Selatan.

Nah berdasarkan pertanyaan-pertanyaan di atas, maka saya rangkum beberapa tempat-tempat wisata yang ada di Sinjai.

TAMAN PURBAKALA BATUPAKE GOJENG

dok: @ayokesinjai | Taman Purbakala Batupake Gojeng

Destinasi wisata yang jaraknya paling dekat dari pusat kota Sinjai adalah Taman Purbakala Batupake Gojeng.  Taman purbakala ini berada di atas bukit dengan ketinggian sekira 125 meter dari permukaan laut. Taman yang luas dipenuhi dengan pepohonan yang rindang.

Pada tahun 1982 silam, diadakan penggalian di lokasi ini. Dan tim penggali menemukan benda cagar budaya yang diperkirakan berasal dari zaman Dinasti Ming seperti keramik, fosil kayu dan peti mayat. Taman purbakala ini terbilang unik karena mengandung nilai sejarah yang sudah berumur ribuan tahun. Taman Purbakala Batu Pake Gojeng adalah saksi sejarah bahwa Sinjai pernah ada di peradaban zaman batu hingga ke zaman modern.

Yang tak kalah menarik dari Batupake Gojeng adalah pemandangannya. Dari atas bukit, akan terlihat jelas kepulauan sembilan dengan jejeran pulau-pulau kecilnya. Juga akan tampak jelas air lautnya yang biru berpadu dengan warnanya birunya langit. Sungguh pemandangan yang sangat menawan. Saban hari taman ini selalu ramai dikunjungi meski hanya sekadar menikmati semilir angin sepoi-sepoi. Untuk masuk ke sini hanya dikenai tiket masuk sebesar Rp. 2.500,-.

KEPULAUAN SEMBILAN

Senja di Pulau Kambuno

Sinjai memiliki wisata bahari yang memesona.  Adalah pulau sembilan yang mempunyai pulau-pulau kecil sebanyak sembilan. Atas dasar itu makanya disebut sebagai Pulau Sembilan.  Pulau yang terdiri dari Pulau Burungloe, Pulau Liang-liang, Pulau Kambuno, Pulau Kodingareng, Pulau Batanglampe, Pulau Katingdoang, Pulau Kanalo 1, Pulau Kanalo 2 dan Pulau Larea-rea.  Meski Pulau Sembilan belum setenar dengan Kepulauan Spermonde namun pulau Sembilan menawarkan keindahan yang  tak kalah menariknya.

Dari ke-sembilan pulau tersebut, ada satu pulau yang tak berpenghuni dan sangat menarik untuk dikunjungi. Pulau ini bernama Larea-rea. Larea-rea sebuah pulau kecil yang di tengahnya ada bukit karang ditumbuhi pohon-pohon. Bukit tersebut dikelilingi hamparan pasir putih. Sepintas, pulau ini mirip dengan bukit karang yang ada di tanah lot.

dok: @ayokesinjai | Pulau Larea-Rea

Yang menarik di Pulau Larea-rea tentunya main air. Airnya sangat menggoda untuk menceburkan diri ke laut. Pasir putihnya sehalus tepung. Snorkeling dan diving bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan. Mengintip keindahan bawah laut yang ditawarkan pulau ini. Jangan lupa untuk membawa peralatan sendiri yah. Pulau Larea-rea sangat cocok untuk mereka yang senang akan  laut, bermain pasir dan pantai.

Tarif Speed Boat

Akses menuju Kepulauan Sembilan melalui Pelabuhan Cappa Ujung.  Ada tiga jenis moda transportasi yang bisa digunakan menuju Kepulauan Sembilan. Speed boat, perahu kayu dan kapal reguler bisa menjadi pilihan. Jika ingin merasakan sensasi menyeberangi lautan luas dengan kecepatan tinggi, maka speed boat adalah pilihan yang tepat, tetapi jika ingin menikmati menyeberang lautan dengan tenang dan santai, maka perahu kayu dan kapal reguler adalah pilihannya. Pun perbedaan harga juga berbeda jauh.

BENTENG BALANGNIPA

Kawasan Benteng Balangnipa

Sinjai banyak menyimpan cerita tentang zaman penjajahan di masa lampau. Tertarik untuk berwisata sejarah di Sinjai? Tenang saja, Sinjai punya destinasi wisata sejarah yang layak untuk dikunjungi.  Adalah Benteng Balangnipa. Benteng ini didirikan pada tahun 1557 oleh kerajaan Bulo-Bulo, kerajaan Tondong dan kerajaan Lamatti. 3 kerajaan ini disebut juga dengan kerajaan Tellulimpoe.

Benteng ini dahulu hanya terbuat dari batu gunung yang kemudian ditempel dengan lumpur dari sungai Tangka. Meski hanya terbuat dari bahan yang sangat sederhana, namun benteng Balangnipa merupakan salah satu benteng terbesar yang ada di Sulawesi Selatan. Selain dijadikan sebagai benteng pertahanan, pun difungsikan sebagai pusat administrasi oleh kerajaan Tellulimpoe. Juga kerap dijadikan sebagai pusat persinggahan oleh petinggi-petinggi kerajaan Gowa

dok: @ayokesinjai | Benteng Balangnipa

Akibat meletusnya perang Mangarabombang, Belanda berhasil menundukkan kerajaan Tellulimpoe. Pada tahun 1859 Benteng Balangnipa direbut oleh Belanda. Para penjajah itupun menjadikannya sebagai markas pertahanan untuk membendung serangan orang-orang pribumi persekutuan kerajaan Tellulimpoe maupun serangan dari luar. Benteng Balangnipa dibangun kembali dengan arsitektur khas bergaya Eropa dan hingga kini masih bertahan. Pembangunannya memerlukan waktu empat tahun. Mulai dibangun  tahun 1864 hingga tahun 1868. Akibat dari renovasi yang dilakukan oleh Belanda membuat bangunan ini kehilangan ciri bangunan tradisional Bugis Makassar.

Jika ingin merasakan atmosper zaman kolonial Belanda, cobalah berkunjung ke Benteng Balangnipa. Pengetahuan sejarahmu bertambah dan koleksi foto narsismu juga akan memenuhi dinding social mediamu.  Ada banyak spot-spot keren untuk mengabadikan kenarsisanmu di sana.

HUTAN MANGROVE TONGKE-TONGKE

dok: @ayokesinjai | Hutan Mangrove Tongke-Tongke dari Ketinggian

Hutan mangrove Tongke-Tongke  salah satu destinasi baru di Sinjai.  Saban hari selalu ramai oleh pengunjung. Terletak di desa Tongke-Tongke berjarak sekira 7 km dari pusat kota Sinjai. Rimbunan pohon bakau berjejer rapi di pesisir laut Tongke-Tongke. Sebelum menjadi destinasi wisata,  kawasan ini dijadikan sebagai laboratorium mangrove.  Jembatan kayu sepanjang 250 meter membelah hutan bakau tersebut untuk memudahkan para pengunjung menelusuri keindahan yang dihadirkan hutan bakau tsb. Ini yang menjadi daya tarik sehingga banyak yang mengunjungi kawasan hutan bakau.

Pemandangan Hutan Mangrove Tongke-Tongke

Di ujung jembatan, pemandangan laut dan jejeran pulau sembilan bisa dinikmati sambil makan atau sekadar minum kopi di warung terapung. Selain itu pengunjung juga dapat menyewa speed boat untuk berkeliling agar bisa lebih menikmati keindahan hutan bakau dari luar dan biota laut yang ada di sekitar. Dengan membayar Rp. 100.000,- dapat memuat maksimal 5 penumpang hingga puas berkeliling kawasan hutan bakau. Foto-foto obyek wisata ini dengan mudah kita temui di berbagai media sosial mulai dari facebook,  instagram hingga path.

PANTAI KARAMPUANG

Pantai Karampuang

Selain Pulau Larea-rea, Sinjai masih punya Pantai Karampuang sebagai destinasi wisata bahari. Sebuah pantai yang terletak di desa Pattongko Kecamatan Tellulimpoe. Berada tepat di sisi kiri jalan yang menghubungkan antara Kabupaten Sinjai dan Kecamatan Kajang. Pantai ini tak jauh dari perbatasan antara Kabupaten Sinjai dan Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba.

Destinasi ini menawarkan keindahan panorama alam yang indah dan memukau. Jejeran pohon nyiur di tepi pantai menambah syahdunya suasana  tertiup angin sepoi-sepoi. Jika senang pantai, bermain pasir serta mandi air laut, Pantai Karampuanglah tempat untuk menikmati semua itu. Pun pemandangan alam yang disuguhkan sangat memukau.

WISATA ADAT KARAMPUANG

Rumah Adat Karampuang

Karampuang nama sebuah kampung di Kecamatan Bulupoddo. Berjarak sekira 40 km dari pusat kota Sinjai. Sebuah kampung yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai adat dan budaya yang diwariskan secara turun-temurun.  Rumah adat itu terletak di tengah bukit berbatu. Jauh dari kehidupan masyarakat modern.

Komunitas adat ini memiliki ritual yang selalu dirayakan setiap tahunnya yang populer dengan ritual Mappogau Sihanua. Mappogau Sihanua merupakan ritual tahunan yang digelar seusai panen, yaitu pada rentang bulan Oktober dan November.

Jika tertarik mengenal sejarah dan budaya di perkampungan ini, cobalah sempatkan waktu Anda mengunjungi kawasan adat Karampuang.  Hal menarik lainnya,  di kawasan adat Karampuang berdiri 2 rumah yang dijadikan ikon dari perkampungan ini.  Para tetua adat yang menempati rumah tersebut.  Mereka inilah yang memegang peranan dalam melestarikan budaya-budaya dalam kawasan adat tersebut.

************

Pemerintah daerah baru mulai tertatih-tatih untuk mengolahnya dengan baik agar nantinya objek wisata tersebut menjadi menarik untuk dikunjungi dan dapat mendatangkan para wisatawan. Sejak tahun kemarin, pemerintah daerah giat membenahi sedikit demi sedikit tempat wisata yang ada di Sinjai. Satu persatu ditata dan dipercantik. Juga gencar melakukan promosi-promosi melalui media offline maupun media online.

Setidaknya sudah ada usaha untuk menjadikan Sinjai sebagai kota destinasi, bukan lagi sebagai kota persinggahan saja. Semua itu tidak bisa terwujud asalkan masyarakat bahu membahu melestarikan potensi yang dimiliki.  Hal kecil yang bisa dilakukan adalah menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah di sembarang tempat. Sesimpel itu.

Itulah beberapa destinasi wisata yang ada di Sinjai.  Masih banyak destinasi lainnya yang belum sempat saya ulas. Tertarik berwisata ke Sinjai?  Hayuk….. Disiapkan karpet merah lho untuk menyambut kedatangan Anda.

Ayo ke Sinjai 🙂

About Ira Puspita

Check Also

Belajar Untuk Selalu Berbagi

Tidak harus menunggu kaya untuk selalu berbagi. Karena tidak semua berbagi itu identik dengan memberi ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nineteen − 8 =

GALERI