Home / Travelling / Bali Trip 2014 [Part 1] Makassar – Bali

Bali Trip 2014 [Part 1] Makassar – Bali

Libur tlah tiba….libur tlah tiba…..horeee….horeee….horeee…. Lagu anak-anak itu terngiang-ngiang di telinga ketika akan memulai trip ke Bali kali ini.

Tulisan ini sebenarnya sudah harus diposting pada bulan Februari lalu. Tapi karena blog ini pernah bermasalah, jadinya baru sekarang sempat posting ceritanya. Perjalanan ke Bali kali ini bertepatan dengan long weekend yang jatuh pada tanggal 31 Januari hingga 2 Februari. Awalnya iseng saja mengajak personilnya JINS untuk menjelajah Bali tetapi akhirnya bisa terwujud dengan update postingan blog ini. Alhamdulilah yah….terbukti kalau saya ternyata jago meracuni dan merayu seseorang dalam hal jalan-jalan.

Dengan berbekal tiket Air Asia yang tidak promo, kami berangkat dengan semangat 45. Saya, Ayu, Melati dan Iccung. Sejak subuh kami sudah berangkat ke bandara. Menurut jadwal, kami terbang menuju Bali pukul 06.45 pagi. Bandara Hasanuddin cukup ramai waktu itu, mungkin karena bertepatan long weekend jadi banyak yang bepergian. Singkat cerita, perjalanan kami pagi itu berjalan lancar dan berharap ke depannya tidak ada drama yang mewarnai :).

Makassar – Bali

Perjalanan Makassar – Bali ditempuh kurang lebih 1,5 jam’an. Tiba di Bandara International Ngurah Rai sekitar pukul 08.00. Driver sekaligus guide kami selama di Bali sudah menunggu di depan terminal kedatangan. Lama tidak ke Bali, ternyata banyak perkembangan. Bandaranya sedang tahap renovasi. Dan sepertinya akan menjadi salah satu bandara keren di Indonesia.

Patung Gatot Kaca

Masih terlalu pagi ketika kami menjejak Bali. Meski masih pagi, namun matahari sudah bersinar garang. Hal pertama yang kami lakukan adalah mampir mengambil gambar di patung Satria Gatot Kaca. Setelah puas bernarsis ria di patung Gatot Kaca, kami pun memutuskan untuk sarapan dulu. Pak Made mengarahkan kami ke warung Pecel Bu Tinuk. Lokasi warungnya masih berada di daerah Kuta dan tidak begitu jauh dari bandara.

Warung Nasi Pecel Bu Tinuk adalah salah satu warung makan yang selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan. Bukan hanya nasi pecel yang disediakan di situ, pun aneka ragam macam makanan lainnya juga tersedia. Yang serunya, kita bebas memilih sesuka hati makanan apa yang mau disantap. Dengan konsep prasmanan. Uniknya, setelah mengambil makanan, petugas hanya melihat makanan apa yang diambil lalu memberikan semacam kupon jumlah harga dari makanan dan minuman yg dipilih. Soal rasa, salah satu nasi pecel yang layak mendapat nilai delapan. Enak dan rasanya pengen nambah. Selain enak, harganya juga cukup murah dan sangat terjangkau lho.

Pandawa Beach

Setelah mengisi kampung tengah, perjalanan menjelajah Bali kami lanjutkan. Pantai Pandawa adalah tujuan kami yang pertama. Pantai Pandawa  terletak di desa Kutuh daerah Nusa Dua, Bali. Pantai Pandawa adalah daerah wisata baru di Bali dan tempatnya masih alami. Pun tempatnya baru dibuka pada tahun 2012 lalu. Memasuki area wisata Pandawa, mata dibuat terbelalak dengan pemandangan di sekitar. Pemandangan tebing yang dibuat seindah mungkin di kanan kiri jalan. Tebing-tebing kapur yang telah dikeruk dengan rapi. Jalan tersebut memang sengaja dibuat dengan membelah bukit kapur di kawasan tersebut. Pemerintah setempat memang sangat jeli dengan potensi wisata yang mereka miliki.

Di bukit-bukit kapur tersebut telah diukir dan dilubangi untuk dipasang patung dari tokoh Pandawa Lima dalam kisah Mahabharata. Saat memasuki area Pantai Pandawa, hujan tetiba mengguyur. Namun sebentar saja, kembali menjadi cerah. Cuaca sepertinya sedang labil. Belum habis juga rasa kagum akan pemandangan bukit kapur, mata kembali dibuat terbelalak saat memasuki kawasan pantai. Panorama pantainya sangat indah. Pasir putihnya yang bersih dan halus bagaikan tepung serta warna lautnya yang hijau kebiruan. Perpaduan warna yang sangat pas. Cukup lama kami menikmati semilir angin di Pantai Pandawa. Sambil melihat keriuhan yang terjadi di sekeliling. Rasanya pengen ikut mencebur ke laut tapi malas saja berganti kostum setelahnya.

Rasanya malas untuk beranjak meninggalkan Pantai Pandawa. Tetapi mengingat masih banyak rute yang harus dikunjungi, maka mau tidak mau harus segera beranjak. Sesaat meninggalkan kawasan pantai, hujan mengguyur lagi. Padahal kami masih mau mengambil gambar relief-relief patung patung pandawa lima. Hujan tidak mau kompromi dengan keinginan kami, dan akhirnya kami menyerah.

 

To be continued…

About Ira Puspita

Check Also

#TravelWork-Bandung 2016 : Akhirnya ke Tangkuban Parahu

Sudah berkali-kali ke Bandung, namun belum sekalipun mengunjungi Tangkuban Parahu. Tahun 2015 lalu, saya  ke …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

15 − 15 =