Home / Catatan Kecil / BPJS oh BPJS

BPJS oh BPJS

Sejak BPJS diberlakukan di negeri kita yang tercinta ini, keluhan demi keluhan terdengar nyaring. Ada yang merasa puas namun lebih banyak yang kecewa. Mulai dari penerbitan kartu itu sendiri hingga soal pelayanannya yang kurang memuaskan.  Saya tertarik untuk mengurus BPJS demi berjaga-jaga siapa tahu besok-besok membutuhkannya. Saya sudah memiliki beberapa polis asuransi dari swasta tapi saya rasa tetap wajib untuk memiliki program asuransi yang diusung oleh pemerintah.

Mulailah ke kantor BPJS yang ada di daerah saya untuk mengambil formulir yang harus diisi. Kendala datang saat mewajibkan semua anggota keluarga yang tertera dalam kartu keluarga harus ditanggung. Kepala keluarga yang ada di KK adalah PNS jadi mereka tidak perlu memiliki BPJS karena PNS sudah ada ASKES. Nah, saya yang bukan PNS mau tidak mau mengurus sendiri untuk kepemilikan BPJS secara mandiri.

Dalam kartu keluarga ada tujuh orang yang terdaftar. Empat orang yang bukan merupakan tanggungan dari kepala keluarga. Oh yah saya terdaftar dalam kartu keluarga sepupu saya. Setelah mengisi semua berkas yang diberikan oleh BPJS, saya lalu menyetornya ke bagian pendaftaran. Namun saya tidak bisa membuat kartu BPJS apabila tiga anggota keluarga lainnya tidak ikut mengurus secara kolektif. Tiga orang nama yang ada dalam kartu keluarga tersebut tidak menetap di Sinjai. Dua di antaranya menetap di Jakarta dan satu orang lainnya menetap di New Zealand. Mereka juga tidak minat mendaftar BPJS karena sudah memiliki asuransi kesehatan dari kantornya masing-masing.

BPJS memberikan solusi dengan membuat kartu keluarga terpisah. Saya mencoba usaha mengikuti saran yang diberikan pihak BPJS. Masalah baru yang muncul, kantor Catatan Sipil tidak membolehkan penerbitan kartu keluarga baru apabila hanya sendirian dan belum menikah. Prettt…..lagi-lagi diskriminasi untuk kaum jomblo. Akhirnya saya kembali ke kantor BPJS tetapi BPJS tetap tidak membolehkan apabila anggota keluarga lainnya tidak ikut didaftarkan. Saya mulai lelah berdebat dengan pihak BPJS. Program ini sepertinya pemaksaan. Kalau yang bersangkutan tidak berminat mendaftar BPJS, kenapa harus dipaksakan. Akhirnya saya membatalkan untuk ikut BPJS.

Sebelum ada yang namanya BPJS, Sinjai sudah memiliki kartu Jamkesda. Kartu ini lebih worth it untuk dimiliki. Selain premi murah juga semua anggota keluarga sudah tercover. Hanya dengan seratus dua puluh ribu pertahun untuk semua anggota keluarga. Dan semua fasilitas gratis jika sewaktu-waktu membutuhkan. Tapi sayang, Jamkesda sekarang hanya tinggal kenangan karena tergeser dengan BPJS yang ribet itu.

About Ira Puspita

Check Also

Kenapa Kalau Saya Jomblo? Masalah Buat Elo?!

Apa yang salah jika umur sudah melebihi dari cukup tapi belum juga menikah. Trus siapa …

6 comments

  1. Memang masih banyak yang perlu dibenahi dari BPJS, tapi setidaknya BPJS sudah mulai dijadikan solusi kesehatan masyarakat saat ini. Banyak banget yang terbantu dengan BPJS. Mudah-mudahan BPJS akan lebih baik kedepannya

  2. BPJS oh BPJS…Semoga lebih baik ke depannya dan lebih bersahabat dengan Jomblo…
    karena sesungguhnya

    BPJS adalah Barisan Para Jombo Sukses yang
    Butuh Pelukan Juga Sentuhan (BPJS)

    xixixixixi

  3. semoga kedepannya administrasi lebih dimudahkan. toh kan juga untuk rakyat heheh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seven + 19 =