Home / Journey / Jakarta : Menyusuri Jejak Kolonial di Kota Tua

Jakarta : Menyusuri Jejak Kolonial di Kota Tua

Pada suatu waktu di bulan April 2014 lalu, saya kebetulan sedang berkunjung ke Jakarta. Sejak beberapa hari sebelumnya, saya sudah berkeliling dari mall ke mall. Meski tak belanja tapi paling tidak menikmati suasana mall dan mengamati perilaku orang-orang yang hilir mudik. Atau hanya sekadar nongkrong di salah satu sudut kafe sambil menertawai kebodohan masa lalu bersama teman-teman tertjinta.

1428340144498

Sebelum pulang ke Sinjai, saya ingin menikmati Jakarta dengan cara berbeda. Rasanya sayang melewatkan waktu begitu saja dengan mager di apartemen. Maka siang itu saya mengajak Iqko menjelajah kota tua. Stasiun Jakarta Kota menjadi meeting point dengan Iqko. Sebelum menjelajah kota tua, saya dan Iqko makan siang di depan gedung BNI. Setelah itu menemani Iqko jumatan terlebih dahulu. Aktifitas siang itu sangat ramai dan beragam. Banyak penjual makanan yang berjejeran. Sayangnya saya sudah kenyang jadi urung untuk menambah lemak lagi. Setelah Iqko kelar jumatan, penjelajahan ke kawasan kota tua pun dimulai.

Cuaca Jakarta begitu cerah dan terik hingga terasa membakar kulit. Namun teriknya sang surya siang itu tidak menyurutkan langkah kami untuk berwisata sejarah di kawasan kota tua. Ini kali kedua saya mengunjunginya. Sebelumnya, saya sudah pernah berkunjung namun tidak sampai masuk ke dalam museum. Makanya kali ini tidak boleh melewatkannya lagi.

Museum Fatahillah

Museum Fatahillah biasa disebut juga dengan Museum Sejarah Jakarta.  Museum ini mulai dikenal sejak tahun 1974. Pada masa VOC, gedung ini merupakan Balai Kota Batavia yang merangkap sebagai pengadilan dan penjara bagi warga pribumi yang melanggar peraturan. Dibangun untuk ketiga kalinya mulai tanggal 23 Januari 1707 oleh Gubernur Jendral Joan Van Hoorn dan selesai tanggal 10 Juli 1710 pada masa Gubernur Jenderal Abraham Van Riebeeck. Arsitek bangunan gedung ini berkiblat pada bentuk Balai Kota Amsterdam yang berdiri seabad sebelumnya.

Memasuki museum ini, aura magis sangat terasa. Apalagi ditemani oleh Iqko. Iqko paling peka dalam hal mahluk-mahluk yang tak terlihat oleh kasat mata. Makanya saya tidak berani komentar yang aneh-aneh. Di museum ini banyak terdapat benda-benda bersejarah yang mengingatkan pada jaman tempo dulu. Seperti meriam, penjara bawah tanah, pedang eksekusi dan juga lukisan Gubernur Jenderal VOC hindia Belanda. Bisa jadi Iqko melihat yang lain tapi tidak terlihat oleh mata saya. Seperti noni-noni Belanda yang berlalu lalang. Bisa jadi!

Museum Seni Rupa dan Keramik

Saya tidak betah berlama-lama di museum Fatahillah. Kami pun berpindah ke museum seni rupa. Saya tertarik dengan arsitektur dari museum seni rupa. Bangunannya bergaya neo classic. Tamannya juga cukup rindang karena banyak pepohonan yang tumbuh di halamannya. Sehingga membuat sengatan sinar matahari terhalangi rindangnya pepohonan.

Museum ini memiliki 8000 koleksi seni rupa dan keramik. Beberapa koleksi unggulan  tentang sejarah perkembangan seni rupa di Indonesia dipamerkan. Sedangkan untuk koleksi keramik, museum ini menyimpan keramik yang berasal dari berbagai pusat kerajinan industri keramik di Indonesia.

Dalam sejarah seni rupa di Indonesia, kegiatan melukis telah ada sejak zaman pra sejarah. Ditandai dengan adanya peninggalan lukisan pra sejarah yang berada di gua leang-leang di Sulawesi Selatan. Menurut para ahli arkeologi, lukisan tsb telah berumur sekitar 5000 tahun yang lalu. Pertama kali ditemukan oleh Van Heekeren dan Miss Heeren Palm pada tahun 1950. Situs tersebut menyimpan jejak kehidupan dan aktivitas nenek moyang kita pada masa prasejarah sehingga oleh pemerintah, cagar budaya tsb diberi nama Taman Prasejarah Leang-Leang.

Puas berkeliling di museum seni rupa dan keramik, pun pengetahuan akan sejarah juga bertambah.  Di jalan keluar tak sengaja menemukan mushallah untuk para pegawai di museum tsb. Kebetulan saya belum melaksanakan shalat dhuzur dan sekarang giliran Iqko yang menunggu saya untuk menunaikan kewajiban. Sekaligus juga meregangkan jari-jari kaki yang seharian telah berjalan jauh.

Pusat keramaian kawasan kota tua berada di depan museum Fatahillah. Anak-anak hingga orang dewasa berkumpul di situ. Berbagai aktifitas dapat dilakukan di lapangan terbuka. Jika ingin menikmati romantisme masa lalu, bisa menyewa sepeda onthel warna-warni dengan topi lebar khas noni Belanda berkeliling kota tua. Selain itu para seniman jalanan dengan tubuh penuh cat diam bagai patung di spotnya menunggu para pengunjung yang ingin berfoto bersama mereka. Apabila ingin berfoto di dekatnya maka jangan lupa menaruh uang seikhlasnya pada sebuah kotak kardus yang sudah tersedia.

Semakin sore semakin banyak yang berdatangan. Bukan hanya itu, aneka kuliner Betawi juga mudah ditemui. Seperti kerak telor dan anek jajanan es. Tetapi jika ingin bersantai sambil menikmati alunan musik tempo doeloe maka Cafe Batavia tempat yang pas. Kafe ini merupakan spot terbaik untuk menikmati Kota Tua. Ditambah dengan interior kafe yang membawa kita seolah-olah memasuki lorong waktu di masa lalu. Interior yang tertata di dalam bangunan ini terlihat indah dan unik. Yang lebih uniknya lagi, hampir semua dindingnya didominasi foto-foto kuno tokoh sejarah jaman dulu. Baik yang berasal dari tanah air maupun dari luar negeri. Di toiletnya pun banyak dijumpai foto-foto tsb. Kafe batavia memang unik. Nuansa nyaman dan romantis yang dirasakan jika berada di dalamnya.

Jika ingin merasakan atmosfer jejak masa lalu maka cobalah untuk berjalan-jalan menyusuri setiap lorong yang ada di Kota Tua. Suasana kental kolonial sangat terasa.

About Ira Puspita

Check Also

#TravelWork-Bandung 2016 : Akhirnya ke Tangkuban Parahu

Sudah berkali-kali ke Bandung, namun belum sekalipun mengunjungi Tangkuban Parahu. Tahun 2015 lalu, saya  ke …

12 comments

  1. wah keren banget ya di lensanya Ira ini hehehe , mantep

  2. Haii.. salam kenal. Aku dapat link ini dari Jalan2.com Senang berkunjung ke sini.

  3. Harusnya kita kopdar yaaaa…… Ihiks. Kangen tau

  4. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai wisata bersejarah.Benar benar sangat bermamfaat dalam menambah wawasan kita menjadi mengetaui lebih jauh mengenai tempat wisata di indonesia.Saya juga mempunyai artikel yang sejenis mengenai indonesia yang bisa anda kunjungi di sini

  5. kota tua emang gak pernah kehilangan daya tarik 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

17 − eight =