Home / Journey / Jalan-Jalan ke Kuala Lumpur Part 1

Jalan-Jalan ke Kuala Lumpur Part 1

Alarm shalat subuh membangunkan dan memaksa saya untuk membuka mata yang masih ingin terlelap. Segera saya bangkit untuk melaksanakan ritual subuh. Sekilas melirik ke ranjang sebelah, ternyata Ayu dan Iccung masih terlelap dan terbuai dengan mimpinya. Mereka terbangun disaat mendengar kegaduhan yang saya buat. Saya kembali tidur-tiduran selepas ritual subuh rampung. Masih mengantuk dan kedinginan karena suhu ac yang disetel paling dingin. Pantas aja menggigil. Kembali berselimut adalah pilihan paling pas sambil mengecek akun social media yang tak tersentuh sejak semalam.

Beberapa gadget dari kami tidak mendapat asupan energy karena ketidak cocokan colokan. Saya hanya membawa satu charger yang bisa terpakai di Malaysia ini. Padahal jauh hari sebelum berangkat, sudah saya wanti-wanti agar mereka membawa colokan international adapter. Entah karena lupa atau memang cuek. Akibatnya gadget-gadget tergeletak pasrah menunggu giliran untuk dipertemukan dengan colokan. Saya mendahulukan blekberi dan kamera yang harus terisi full. Alasannya kalau blekberi saya lowbatt, bagaimana bisa keep in contact dengan Mba Ocie. Dan  kalau kamera  lowbatt, bakalan tidak bisa mengekspresikan kenarsisan.

Satu persatu mandi dan beres-beres koper. Karna malam nanti perjalanan dilanjutkan menuju Singapura. Dan tidak kembali lagi ke hotel. Setelah sarapan kami langsung check out. Tour guide merangkap sopir kami sudah menunggu di lobby. Yeah…mari kita mengekplorasi Kuala Lumpur meski hanya sehari saja.

Istana Negara

Objek wisata yang pertama kali kami kunjungi adalah Istana Negara kerajaan Malaysia. Istana yang megah dengan dua kubah berwarna kuning keemasan ini awalnya merupakan kediaman jutawan China bernama Chan Wing yang dibangun pada tahun 1928. Pada saat penjajahan Jepang, diambil alih oleh pejabat Jepang untuk dijadikan kediaman para pejabat dan pegawai-pegawainya. Pasca berakhirnya perang dunia, kerajaan Negeri Selangor mengubah kediaman ini dan menjadikan tempat kediaman resmi Sultan Selangor.

Setelah Malaysia merdeka pada tahun 1957, dijadikan kediaman resmi Yang Di-Pertuan Agong. Istana Negara dikelilingi pagar tinggi, tapi kita masih bisa melihat kawasan Istana dan taman yang menarik disekelilingnya. Sayangnya kawasan Istana Negara tidak terbuka untuk  umum. Hanya bisa bernarsis-narsis di pintu gerbang utama. Dan menyaksikan para pasukan berkuda yang sedang bertugas.

Batu Caves

Setelah puas bernarsis-narsis ria di Istana Negara, pak Jay membawa kami ke Batu Caves. Batu caves adalah sebuah bukit kapur yang memiliki tiga gua utama dan satu gua kecil. Batu caves dijadikan sebagai tempat ibadah umat Hindu di Malaysia. Yang  menarik adanya patung Dewa Murugan yang menjulang tinggi mencapai 43 meter. Dan juga beberapa  monyet jinak dan ratusan merpati yang beterbangan.

Spot untuk foto-foto banyak yang bertebaran. Untuk naik keatas gua harus melewati 272 anak tangga. Nah lho….setelah dipikir-pikir  kami memilih untuk tidak keatas. Setelah puas mengeksplorasi bagian bawah batu caves, kami meminta Pak Jay membawa ke destinasi selanjutnya. Sepanjang perjalanan, Pak Jay banyak bercerita. Katanya sempat kaget sewaktu tahu kami datang berlima dan semuanya perempuan. Belum tahu dia kalau kami perempuan-perempuan tangguh  😆

Perjalanan tidak berasa jauh karena diselingi dengan tawa dan canda. Pak Jay membawa kami ke toko jam tangan dan parfum. Kawasan perbelanjaan ini dipadati dengan wisatawan. Bus-bus pariwisata berjejeran di parkiran. Sepertinya  setiap bus pariwisata dibawa oleh pemandunya ke toko jam ini. Konon katanya barangnya murah dan branded. Tapi saya tidak tertarik untuk membelanjakan ringgit yang saya miliki. Saya lebih memilih untuk menukarkan sebagian ringgit dengan beberapa batang coklat.

Tak lama kami mengitari toko jam lalu beranjak ke butik coklat. Yippiii…beryl’s chocolate surganya pencinta coklat. Beraneka ragam coklat tersedia. Ada rasa durian, rasa tiramisu, bahkan coklat rasa cabe juga tersedia.  Semacam kalap belanja coklatnya. Setelah puas belanja coklat dan puas mencoba berbagai macam testernya, kami bergegas meninggalkan beryl’s chocolate sebelum dompet semakin menipis. Hari semakin siang, perut sudah menjerit meminta haknya untuk diisi.

Masih bersambung….

 

About Ira Puspita

Check Also

#TravelWork-Bandung 2016 : Akhirnya ke Tangkuban Parahu

Sudah berkali-kali ke Bandung, namun belum sekalipun mengunjungi Tangkuban Parahu. Tahun 2015 lalu, saya  ke …

3 comments

  1. ah iya, saya belum sempat ke batu caves. tapi kok gak naik ke atas? 🙂

  2. Istananya mirip Masjid Kubah di Jakarta 🙂 Kubahnya yg Mirip..

    *selamat berpetualang wahai para perempuan Tangguh 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × 5 =