Home / Journey / Kembali Menjejak Pontianak

Kembali Menjejak Pontianak

Selagi ada niat akan selalu ada cara untuk bersua….karena rindu itu harus dituntaskan!

Pukul 09.20 pagi, pesawat Lion Air yang saya tumpangi mendarat mulus di Supadio International Airport. Kursi penumpang terisi penuh, salah satu penyebabnya mungkin karena penerbangan dari Makassar dengan tujuan Pontianak hanya sekali dalam sehari dan penerbangan ini adalah jalur baru yang dibuka oleh Lion Air. Ini kali kedua saya menjejak bumi Kalimantan Barat yang ber-ibukota Pontianak. Kunjungan sebelumnya pada tahun 2013 silam. Bandaranya sudah rampung, pada waktu itu bandara Supadio masih tahap berbenah. Bandaranya sekarang keren dengan tiang-tiang bangunannya yang diberikan aksen khas Suku Dayak.

Di terminal kedatangan, kakak saya yang laki-laki sudah menunggu. Sejak 2 bulan lalu, perjalanan ini sudah direncanakan. Tapi baru kali ini dapat terwujud. Padatnya jadwal kerja dan beberapa urusan yang harus dituntaskan menjadi penyebabnya. Pun ini adalah undangan khusus dari kakak-kakak saya yang menetap di Pontianak.

My Beloved Bro and Sist

 

Hari mulai beranjak siang ketika memasuki kota Pontianak, kendati hari sudah siang namun matahari masih malu-malu menampakkan sinarnya. Pemandangan dari bandara menuju pusat kota banyak yang berubah, perumahan elite yang brandnya terkenal di kota-kota besar mulai bermunculan. 3 tahun silam perumahan-perumahan itu belum ada.

*******************

Pontianak adalah ibukota propinsi dari Kalimantan Barat. Salah satu kota yang ada di pulau Kalimantan. Kota ini dikenal sebagai Kota Khatulistiwa karena dilalui garis khatulistiwa. Di utara kota Pontianak, tepatnya Siantan, terdapat Tugu Khatulistiwa yang dibangun pada tempat yang dilalui garis khatulistiwa. Selain itu, Kota Pontianak juga dilalui oleh Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Kedua sungai itu diabadaikan dalam lambang Kota Pontianak. Kota Pontianak didirikan oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie  pada hari Rabu tanggal 23 Oktober 1771 bertepatan dengan tanggal 14 Radjab 1185.

Keraton Kadriah

Sejarah berdirinya kota Pontianak bermula ketika Syarif Abdurrahman Alkadrie beserta rombongannya melakukan perjalanan menyusuri Sungai Kapuas. Pada saat rombongannya mencapai pertemuan arus antara sungai Kapuas Besar dan Sungai Landak, mereka diganggu oleh suara-suara yang menakutkan. Diduga suara-suara yang menakutkan itu berasal dari hantu kuntilanak yang menguasai daerah tersebut. Karena gangguan-gangguan itu sehingga Syarif Abdurrahman memutuskan untuk menunda perjalanannya beserta rombongan.

Penghuni astral di tempat tersebut terus menerus menganggu Syarif Abdurrahman, sehingga membuat beliau memutuskan menembakkan meriam ke arah sumber gangguan berasal. Peluru meriam itu jatuh di dekat pertemuan antara Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Tempat di mana meriam itu jatuh menandakan bahwa wilayah kesultanannya didirikan. Pada tahun 1778, Syarif Abdurrahman Alkadrie dikukuhkan menjadi Sultan Pontianak. Letak pusat pemerintahan ditandai dengan berdirinya Masjid Jami’ yang kini bernama Masjid Sultan Syarif Abdurrahman dan Istana Kadriah. Daerah tersebut lebih terkenal dengan sebutan Kampung Beting. Di sinilah cikal bakal kesultanan Pontianak bermula.

Masjid Jami’

Kalimantan adalah daerah tempat penyebaran orang Melayu. Penduduk kota Pontianak didominasi oleh etnis Melayu. Selain Melayu, etnis Tionghoa juga mendominasi penduduk kota ini.  Pontianak juga menjadi wilayah yang terbuka untuk para pendatang. Tak hanya itu, etnis Bugis dan Jawa sangat mudah ditemukan di sini. Orang Bugis terkenal dengan para perantau yang tangguh dan lihai berniaga pun begitu juga dengan orang Jawa. Bahkan ada beberapa tempat yang dinamai dengan nama daerah di tanah Bugis. Banyak pendatang yang menetap di kota ini

Pontianak kotanya unik, kota yang tidak pernah tidur. Hiruk pikuk kehidupan masyarakat Kota Pontianak seakan tidak pernah berhenti selama 24 jam. Meski kotanya tidak terlalu besar, penduduknya cukup padat. Jika dibandingkan dengan Makassar, Pontianak tidaklah seberapa ramai.  Namun jumlah penduduk besar sehingga otomatis pusat perekonomian berada di Pontianak. Maka tidaklah mengherankan jika lalu lintas kotanya pun menjadi padat dan ramai.

Jalan Gajah Mada adalah jalan utama di pusat kota. Tempat yang aneka ragam  kuliner tersedia dan juga tempat  menikmati suasana malam Pontianak yang khas. Dengan mudah ditemui warung-warung kopi, bahkan ada beberapa warung kopi sejak jam 3 dini hari sudah  mulai menggelar lapak kopinya.  Salah satu warung kopi legendaris yang terkenal seantero Pontianak adalah Asiang. Asiang sang barista yang tanpa mengenakan baju saat melayani para pelanggannya. Dan itu sudah terjadi sejak berpuluh-puluh tahun lamanya. Budaya minum kopi masyarakat Pontianak yang menjadikan warung-warung kopi menjamur. Saling berinteraksi sambil bersantai menikmati racikan kopi khas Pontianak.

Konon katanya menurut kepercayaan orang Pontianak, jika sudah pernah meminum air sungai kapuas, maka suatu saat akan kembali lagi mengunjungi kotanya. Sepertinya saya sedikit percaya dengan mistis itu. Di penghujung November saya kembali. Mengunjungi kakak-kakak dan keponakan demi untuk menuntaskan rindu. Karena Pontianak memang layak untuk dirindukan. Dan ketika menulis cerita ini, saya kembali merindukan mereka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

About Ira Puspita

Check Also

#TravelWork-Bandung 2016 : Akhirnya ke Tangkuban Parahu

Sudah berkali-kali ke Bandung, namun belum sekalipun mengunjungi Tangkuban Parahu. Tahun 2015 lalu, saya  ke …

One comment

  1. Waaaaaah abis liat foto foto disini jado pengen main ke Pontianak jugaaaa.. Makasi sharingnya ya maaaaak 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nineteen + 3 =