Home / Catatan Kecil / Kenapa Kalau Saya Jomblo? Masalah Buat Elo?!

Kenapa Kalau Saya Jomblo? Masalah Buat Elo?!

Apa yang salah jika umur sudah melebihi dari cukup tapi belum juga menikah. Trus siapa yang harus disalahkan? Tuhan?

Tadi siang disaat jam istirahat, saya iseng membuka grup bbm dan membaca curhat seorang sahabat yang lagi depresi karna merasa dibully oleh teman kantornya. Yang dulunya teman kantornya ini pernah melamar sahabat saya tapi ditolak. Entah atas dasar apa sehingga lelaki itu masih saja mendekati sahabat saya ini. Padahal si lelaki ini sudah menikah dengan orang lain. Sakit hatikah karna ditolak? Itu hanyalah beberapa obrolan absurd yang kerap kami bahas disaat  ada waktu senggang. Dan ujung-ujungnya diakhiri dengan mengutuk orang yang selalu menertawai kejomblohan kami. Hidup itu hanyalah soal pilihan. Setiap pilihan atau takdir pasti ada resiko, seperti dua sisi mata uang.

Images by Google

Sudah sering kali saya selalu mendengar cemohan orang-orang sekitar saya karna status saya yang masih sendiri. Diantara saya bersepupu, hanya saya yang belum menikah. Masih ada sih dibawah saya tapi mereka belum cukup umur. Setiap ada acara keluarga, sayalah yang selalu  menjadi korban bullying mereka dengan topik jodoh. Bukan saja dari lingkungan keluarga, pun juga dengan lingkungan kantor. Dan setiap kali, saya selalu saja punya stok alasan untuk menangkis serangan mereka, ketika mulai beretorika tentang pasangan. Tetapi lama kelamaan hati dan telinga mulai jenuh kalau topiknya ini-ini saja dan pertanyaannya itu-itu terus, lama-lama jadi annoying. Efeknya saya jadi eneq setiap  mendengar kata jodoh. Pusing saya setiap kali mendengar ocehan-ocehan mereka. Memangnya saya lantas berubah jadi alien, kalau saya belum menikah juga disaat usia saya sudah lewat kepala tiga ??  Apa saya lantas jadi makhluk yang tidak berhak untuk bahagia dengan kesendirian saya ?? Huuh!

Sering kali terjadi, jika ketemu teman lama dan tahu kalau saya belum menikah. Komentarnya selalu paling juara. “Terlalu memilih kali?” tapi komentar-komentar itu lebih mendingan daripada disangka ngga laku. Pfffttt…cape deh. Dibilang pemilih, setiap orang pasti punya pilihan dan kriteria.  Sepanjang masih wajar, itu semua sah-sah saja.  Apakah lantas karena usia sudah panik, kita main sabet yang ada di depan mata? Hanya demi mengejar perpindahan status dari melajang menjadi menikah? Bagaimana kalo jadinya pernikahan itu tidak membawa manfaat, hanya membawa mudharat? Bagaimana kalau pernikahan itu berujung perceraian? Nah lho…Kalau menikah hanya sebagai “status” saya mungkin sudah menikah dari kapan tahun. Tapi apakah itu tujuan sebenarnya dari sebuah pernikahan bagi perempuan? Hanya untuk status?

Well….bukannya saya tidak kepengen kawin atau menikah atau apapun namanya. Saya yakin banyak perempuan-perempuan single di luar sana yang juga punya keinginan yang sama dengan saya. Tapi perkara menikah itu bukan soal gampang. Memilih pasangan tidak segampang memilih pakaian apa yang akan kita pakai untuk hari ini. Tetapi lebih ke soal kedewasaan dan keberanian serta segudang stok maaf disaat pasangan kita mulai bertingkah. Juga soal takdir, karena memang belum ketemu saja dengan lelaki yang pas. Yang bisa membuat saya nyaman saat berada di sampingnya, dan yang bisa membawa saya ke ruang waktu yang mungkin tidak sekalipun pernah saya bayangkan.

Kata orang yang sudah  menikah, menikah berarti kita siap berkomitmen. Lahir dan bathin. Ibarat janji kita untuk menahan diri untuk tidak hilang akal disaat diskon besar-besaran sampai delapan puluh persen.  Menikah berarti menyatunya dua kepala yang tidak cukup hanya disatukan oleh kegemaran yang sama, apalagi hanya karena takut dicap sebagai perawan tua. Karna setelah menikah standar senang itu akan bergeser. Bahwa setelah menikah akan ada persahabatan, ada teman hidup yang menemani kita dalam kondisi apapun. Yang menyelimuti dan memeluk kita disaat kedinginan. Itu standar senang yang baru. Konsep menikah untuk persahabatan, kemesraan dan cinta itu tidak bisa buat membayar cicilan, beli susu dan juga membeli rumah.

Ibarat sebuah bus, setiap orang punya tujuan masing-masing. Dan karena setiap orang punya tujuan yang berbeda itulah yang membuat setiap orang punya jadwal. Ada yang berangkat lebih awal, ada pula yang berangkat belakangan. Begitu pula halnya dengan menikah. Meskipun kadang setiap kali datang ke pesta perkawinan teman atau keluarga pasti diam-diam terbersit pertanyaan yang menyelinap di hati kecil kita “Kapan ya giliran saya” ? 🙂

Tak bisa saya pungkiri saya sempat mengalami masa-masa galau setelah angka parno menghinggapi saya. 30+ katanya adalah masa-masa paniknya para perempuan single. Tapi saya berhasil keluar dari pikiran-pikiran yang merendahkan diri saya sendiri. Perempuan jaman dulu menganggap menikah diusia 20an adalah perempuan hebat, karena mereka pikir menikah itu adalah prestasi. Jadi jika saat itu ada perempuan usia 30an belum menikah, ia akan merasa rendah diri. Tapi sekarang eranya sudah bergeser. Perempuan sekarang lebih mementingkan kariernya. Karena perempuan sekarang adalah typichal perempuan mandiri. Juga posisi perempuan dan laki-laki sudah semakin equal, semakin seimbang, membuat perempuan mencari teman hidup yang bisa mengimbanginya. Pendidikan perempuan semakin tinggi, karirnya semakin berkembang, tapi ia masih menuntut mendapatkan jodoh yang lebih tinggi dan lebih baik darinya. Sehingga kesempatannya lebih kecil dan muncullah beberapa opini yang menyesatkan. Atau jangan-jangan kualitas laki-laki sekarang yang malah menurun? Entah….

Saya hanya menjalani hidup dan membiarkannya mengalir. Karna menikah bukan suatu perlombaan, siapa yang paling cepat dia yang menjadi juara, seperti kata teman saya Iqko. Tetapi hanya satu pencapaian baru di perjalanan yang namanya hidup. Tentu masih banyak pencapaian lainnya yang harus ditempuh. Bagi saya, akan tetap menunggu hingga jadwal dengan menaiki bus yang tepat  datang dan membawa saya selamat sampai tujuan.  Daripada menikah buru-buru dan berujung pada perceraian, mendingan santai aja, toh jodoh nggak akan kemana. Dan diperlukan usaha untuk mencapainya tapi bukan berarti buru-buru. Semua sudah ada yang mengatur. Siapa lagi kalo bukan sutradara terbaik dunia akhirat : Tuhan! 🙂

 Line pop saja butuh supply hati….:)

About Ira Puspita

Check Also

BPJS oh BPJS

Sejak BPJS diberlakukan di negeri kita yang tercinta ini, keluhan demi keluhan terdengar nyaring. Ada …

3 comments

  1. Menikah belakangan juga bukan berarti aman dari perceraian. Jangan menunda menikah hanya karena takut perceraian dan takut kegagalan.

    Jangan sampai postingan ini hanya pembenaran saja. 😀
    Jangan cuma menunggu busnya, mbak. Diusahakan dong datangin terminalnya. 😀
    Jodoh emang di tangan Tuhan, tapi selama kita tidak mengambilnya dari tanganNya, maka jodoh kita akan tetap di tanganNya. 😀

    Bukankah sudah jelas apa yang dikatakanNya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka”. Termasuk untuk urusan jodoh ini.

    Maaf kalau seperti berceramah. Daripada berpikir negatif (perceraian), lebih baik berpikir positif aja dengan percaya bahwa akan ada banyak kebaikan di setelah pernikahan.

    O, satu lagi. Hidup jangan dibiarkan mengalir saja seperti air. Air di kamar mandi, mengalir terus, jika dibiarkan terus mengalir, akan sampai di got. Tempat yang kotor.
    Tapi cobalah buat alirannya yang baik, hingga terus mengalir sampai tempat yang lebih layak. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × three =