Home / Kontes Blog / Lebih Hebat dari Kartini

Lebih Hebat dari Kartini

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketiga dengan tema sosok perempuan yang sangat inspiratif.  Jika ada yang bertanya siapa perempuan sangat inspiratif dalam hidup ini, maka dengan serta merta saya akan menjawab bahwa dia adalah perempuan yang telah membawa saya hadir di dunia ini yaitu ibunda. Perempuan yang paling berjasa dalam hidup saya. Karena dia, saya bisa menikmati dan merasakan warna-warni dunia ini.

Ibu adalah sosok perempuan tangguh sepanjang hidup saya. Hingga saya menginjak usia kepala tiga, ibu masih selalu memperlakukan saya seperti anak kecil. Kadang saya protes jika ibu mulai kebiasaannya, yang masih menganggap saya gadis kecilnya yang belum tahu apa-apa. Beliau hanya berkata kalau itu adalah bentuk kasih sayangnya. Kalau sudah begitu saya hanya diam mendengarkan, tidak pernah berani untuk melawan.

377295_10151103297723190_1730803750_nHal yang paling selalu dia ingatkan pada saya adalah shalat. Dia akan selalu mengontrol apa saya sudah shalat atau belum. Saya hanya menjawab “saya ini sudah besar, Ma” tapi dia tidak pernah bosan-bosannya juga untuk mengingatkan. Akhirnya saya pasrah saja dan belajar untuk memahaminya.  Mungkin bagi sebagian orang berbagai nilai yang disampaikan terasa tidak inspiratif. Tetapi bagi saya,  sesungguhnya banyak disadarkan akan nilai tersebut oleh ibu. Mulai dari terbiasa untuk berpikir sebelum bertindak, selalu bersyukur apapun keadaan kita dan ikhlas dalam menghadapi berbagai kejadian yang ada, seluruh sikap tersebut ditumbuhkan oleh ibu.

Ibu adalah guru buat saya. Selain guru kehidupan dia sekaligus menjadi guru saya di bangku sekolah kelas dua SD dulu. Jadi lengkap sudah kalau ibu adalah guru segala-galanyanya buat saya. Tidak habis fikir, bagaimana seandainya ibu tidak mempunyai pekerjaan dan hanya seorang ibu rumah tangga. Bagaimana kami bisa bertahan hidup. Karena sejak masih bayi saya tidak kenal dengan orang yang menyebut dirinya ayah. Maka sejak itu ibulah orang tua saya satu-satunya yang saya miliki. Dan sejak itu pula saya tidak pernah bertanya apa dan kenapa semua itu bisa terjadi. Karena saya tidak mau menambah beban ibu. Biarkanlah semuanya mengalir dengan sendirinya.

Meskipun Ibu saya berasal dari generasi yang feodal namun untungnya dia bisa beradaptasi cukup baik dengan perubahan jaman. Karena selalu berfikiran terbuka dan menerima perbedaan. Mungkin semua dia dapatkan dari pengalamannya menjadi guru. Ibu saya tak ubahnya seperti ibu-ibu yang lain. Lembut, sabar, perhatian dan penuh kasih sayang. Tapi mungkin bisa dibilang ibu memiliki kelebihan tersendiri karena begitu banyak pengalaman batin yang mengiris hatinya namun membuatnya tetap kuat bertahan.

Kejadian-kejadian di masa kecil seperti potongan-potongan puzzle di ingatan saya dan ketika saya bisa susun lagi menjadi gambaran utuh, saya melihat gambar yang berbeda dengan gambar ketika saya masih kecil dulu. Saya bisa melewati semuanya, melewati semua kerasnya hidup bersama ibu dengan dukungan keluarga lainnya. Tahun berganti tahun dan saya tumbuh menjadi semakin kuat dengan kemandirian saya.

Kini ibu sudah menapaki usia yang ke 66 tahun. Beliau harus selalu berjuang melawan berbagai penyakit yang dideritanya. Penyakit karena umur, begitu orang menyebutkannya. Reumatik, jantung, hypertensi. Inilah beberapa gangguan kesehatan yang di derita olehnya. 4 tahun silam ibu juga pernah menderita penyakit stroke. Mungkin dari efek pasca stroke hingga banyak rentetan penyakit mengikut. Dan kehebatan Ibu terlihat lagi di sini. Ibu tidak pernah mengeluh akan penyakitnya. Tidak pernah mau menyusahkan semua orang termasuk saya. Jika tiba saatnya untuk theraphy, beliau sendiri yang akan mengurusnya. Tidak pernah mau diantar ke dokter.

Untunglah ibu orangnya patuh pada aturan dokter. Banyaknya jenis makanan yang harus dihindari tak urung membuatnya berkecil hati. Entah sudah berapa tahun ibu tidak pernah merasakan makanan enak. Pun semua dia jalani tanpa keluhan. Beliau menikmati setiap moment yang ada, terus bersyukur dan ikhlas, seperti seluruh ajarannya. Kini di masa-masa pensiunnya berusaha sebisa mungkin untuk membahagiakannya. Memberikan kasih sayang, perhatian, serta perawatan. Memastikan kalau beliau selalu baik-baik saja. Baik itu kondisi fisik maupun psikisnya. Karena hanya sayalah yang dia miliki. Ibu lebih hebat dari Kartini dan pahlawan-pahlawan heroik lainnya.

About Ira Puspita

Check Also

Sebuah Renungan Tentang Kehilangan

Selalu ada pelangi setiap hujan usai Quote itu yang selalu menjadi penyemangat ketika didera perasaan …

19 comments

  1. mantap Ira..
    kelak dirimu juga akan menjadi perempuan yang lebih dari Kartini. Amin.

  2. emm, sudah kepala 3 juga yah kaka 🙂 karakter seorang ibu memang seperti itu akan selalu tegar sampai kapan pun.

  3. Subhanallah. Salut sama ibu ta’.
    Mudah2an selalu tabah dan insya Allah kesabarannya menjalani penyakit akan berbuah berkah.
    Mudah2an berkah juga buat anak2nya 🙂

    • alhamdulillah bunda…..mama selalu menjadi super hero buat saya…..amin untuk semua doa’ta semoga saya juga selalu bisa menjaganya

  4. mantap postingannya mbak, saya doain , mudah2an Ibunya mbak senantiasa diberikan kesehatan. amin.

  5. Salam untuk ibunya kak Ira, semoga dipanjangkan umurnya, diberi kesehatan dan kekuatan. Amin..

  6. selalu gak bisa komen kalo baca postingan tentang mama… tema pekan ketiga yang berat… curcol #ehhh

  7. Tawwa…,salam sama ibunya yang telah berjuang melawan penyakit stroke..,
    Ibu memang pahlawan…, yang benar2 tulus perjuangannya tanpa pamrih.

  8. Sepakat ibunya kk lebih hebat dari Kartini >.< Semoga selalu diberi kesehatan oleh Sang Kekasih ^^ Amin

  9. Ibuku bukan Kartini, bahkan mungkin tidak lebih hebat Kartini. Tapi ibuku adalah tokoh yang sangat menginspirasiku, melebihi Kartini

  10. Sehat selalu buat bundata’, btw tulisanta mengingatkan saya dengan film Robot & Frank. terima kasih sudah berbagi 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

20 + 17 =