Home / Journey / Lost in Singapore

Lost in Singapore

Tulisan ini seharusnya diposting beberapa bulan lalu, tapi baru kali ini bisa menyelesaikannya ­čÖé

Pagi yang dingin menyambut hari kedua kami di Singapura. Matahari masih malu-malu menampakkan sinarnya. Ada yang beda dengan pagi ini, selepas shalat subuh tadi alarm tubuh memberi kode kalau ada yang tidak beres dengan kondisi tubuh. Migrain kumat disaat yang tidak tepat. Sejak semalam memang sudah ada gejala tapi saya selalu berusaha menepisnya. Beruntung saya tidak pernah lupa membawa penawarnya. Karna migrain bukan lagi hal baru buat saya.

Hal terburuk sudah saya antisipasi. Seharian bakal tiduran saja di kamar hotel. Dan membiarkan kesempatan lewat untuk menjelajah Pulau Sentosa. Teman-teman yang lain sejak tadi berkemas, tapi saya hanya diam dalam selimut. Memutuskan untuk tidur saja. Itu keputusan yang adil menurut saya. Akhirnya dengan berat hati mereka meninggalkan saya sendiri. Tapi saya meyakinkan mereka, jika sudah agak enteng segera menyusul mereka.

Setelah tidur beberapa jam, saya mulai merasa agak baikan. Jam menunjukkan pukul sepuluh kurang lebih. Saya memutuskan untuk mandi dan segera menyusul ke Universal Studio. Setelah mandi barulah saya sadar kalau saya belum tahu bagaimana bisa mencapai Universal Studio. Yang terpikir saat itu adalah naik taksi. Tapi saya penasaran dengan MRT. MRT singkatan dari Mass Rapid Transportation. MRT di Singapura ini berbentuk kereta bawah tanah. Mulailah saya mencari info bagaimana agar saya bisa tiba dengan selamat di Universal Studio. Yang pasti saya harus mencari station MRT terdekat. Bertanya ke receptionist hotel. Saya harus berjalan kaki ± 400 meter menuju Novena MRT station. Jaraknya lumayan jauh juga rupanya.

Berjalan kaki menyusuri trotoar sambil menikmati suasana pagi Singapura. Lagi-lagi saya dibuat kagum dengan kota ini. Segala sarana dan prasarana seolah ditata dan disiapkan begitu rupa dengan sempurna. Lalu lintas yang terkelola kepadatannya. Tidak ada suara klakson yang memekakkan telinga. Kendaraan lalu lalang berjalan sesuai dengan jalurnya. Pejalan kaki yang ditempatkan lebih tinggi kedudukannya daripada pengguna jalan lainnya. Meski berjalan kaki tetap merasa nyaman.

Tidak terasa saya sudah sampai di Novena Station MRT. Bisa dibilang semua pemberhentian MRT pasti berada di bawah mall. Mampir ke gerai burger king untuk sarapan pagi. Lalu bergegas ke basement dimana station MRT berada. Sejenak saya ragu karna belum pernah punya pengalaman menggunakan MRT. Ini kali pertama dan patut dijadikan momen bersejarah dalam hidup saya. Dengan modal bertanya dengan bahasa Inggris yang agak belepotan, saya berhasil menemukan loket untuk pembelian tiket. Saya juga meminta bantuan Rara untuk memandu saya melalui whatsapp.

Masalah datang saat akan melakukan pembayaran sesuai dengan tujuan. Padahal saya sudah mencermati setiap orang yang melakukannya sebelum giliran saya. Keringat  mulai bercucuran padahal ruangan semestinya dingin. Kembali saya mencoba dengan membaca petunjuknya. Dan akhirnya saya berhasil mendapatkan tiket. Saya hanya membeli untuk sekali jalan. Tiket satuan yang sudah dibeli itu sudah termasuk deposit $1 yang bisa kita ambil lagi ketika mengembalikan kartunya. Dengan cara memasukkan kembali tiket yang tadi kita beli ke mesin penjual tiket.

Tiket sudah di tangan, saatnya untuk naik ke MRT untuk menuju Harbour Front. Karena Novena tidak sejalur dengan Harbour Front, maka saya harus transit dahulu di Dhoby Gaut Station untuk berpindah ke jalur menuju Harbour Front yang berada di North East Line. Masalah kedua datang ketika saya harus naik ke MRT. Saya masuk ke MRT yang arahnya berlawanan. Tapi saya baru sadar ketika kereta sudah berjalan jauh. Saya bertanya dalam hati “koq terlalu banyak station yang saya lewati?”. Harusnya hanya ada 3 station yang terlewati untuk mencapai Dhoby Gaut Station. Saya memutuskan untuk turun dan kembali naik ke kereta yang berlawanan arah tadi. Saya melapor ke Rara kalau saya ternyata salah arah. Yang pasti Rara menertawai kedodolan ini.

Sesampai di Dhoby Gaut, saya pun mencari jalur North East Line yang berwarna ungu untuk menuju Harbour Front. Bisa dibilang suasana di Dhoby Gaut sangat padat, karena merupakan jalur perpindahan┬ádari 2 jalur MRT. Jarak antar kereta yang lewat pun tidak terlalu lama, paling berkisar 5 menitan. Lagi-lagi kesialan menimpa, saat menuju Harbour Front saya salah turun station. Harusnya masih 1 station lagi. ┬áSaya naik lagi ke kereta berikutnya untuk menuju Vivo City. Kali ini saya tidak salah turun lagi ­čÖé

Sesampai di Harbour Front saya bertanya ke petugas bagaimana mencapai Vivo City. Oleh petugas saya diberi petunjuk untuk mengikuti plang yang ada.  Karena kalau salah bisa-bisa saya jalan lebih jauh lagi menuju Vivo City. Vivo City sendiri merupakan sebuah mall yang cukup besar. Untuk menuju pulau Sentosa bisa ditempuh dengan dua cara. Bisa  dengan naik cable car yang per-orangnya dibanderol $26 atau naik monorail yang cukup bayar $3 per-orang kita bisa sepuasnya naik monorail pulang-pergi. Saya memilih  naik monorail dengan terlebih dahulu menuju ke lantai 3 di Vivo City. Karena tujuan saya adalah Universal Studio, maka saya harus turun di Water Front Station.

Hanya selang beberapa menit saya sudah sampai di Water Front Station. Dari jauh saya sudah melihat teman-teman menunggu di bawah pohon sekitaran Universal Studio. Mereka sempat takjub saat melihat saya, karena berhasil sampai ke Universal Studio tanpa ada yang menemani. Belum tahu mereka kalau untuk mencapai Universal Studio saya butuh perjuangan yang cukup berat ­čÖé

About Ira Puspita

Check Also

#TravelWork-Bandung 2016 : Akhirnya ke Tangkuban Parahu

Sudah berkali-kali ke Bandung, namun belum sekalipun mengunjungi Tangkuban Parahu. Tahun 2015 lalu, saya┬á ke …

6 comments

  1. waktu saya pertama ke Temasek tempo hari, tahun 2009, yang bikin saya terkesan adalah banyak sekali orang Endonesah di pusat perbelanjaan Orchad Road nya…

    dan yg bikin saya surprise adalah, saya menemukan banyak bapak2 pake bahasa Mangkasara di sana sambil nenteng tas2 belanjaan dari iSetan, dsb….:D

    akhirnya sa percaya bahwa memang Temasek hanya sepelemparan batu dari Makassar ­čÖé

  2. hihihihi…

    Bukannya jelas ya ada tulisannya di dinding

    ()

  3. di Singapura bersih banget ya, kapan Indonesia bisa kayak gitu? hehehe…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × 3 =