Home / Travelling / Menguji Adrenalin di Wisata Alam Kalibiru Kulon Progo

Menguji Adrenalin di Wisata Alam Kalibiru Kulon Progo

Sebuah postingan di Path yang berasal dari Eka kawan blogger yang juga kebetulan sedang tugas negara di Yogyakarta, memaksa saya untuk berkomentar dan wajib untuk nimbrung. Postingan itu sangat menggoyahkan iman yang sangat sayang sekali untuk dilewatkan. Yap….ajakan berkunjung ke Kalibiru. Kalibiru adalah salah satu destinasi wisata alam  yang sedang kekinian di Daerah Istimewah Yogyakarta. Spot foto-foto yang fenomenal dan menguji adrenalin.

Sejak beberapa hari lalu, saya sedang berada di kota ini dalam rangka tugas negara yang saya juluki dengan #TravelWork. Rencana awal, hari Kamis pagi saya sudah menjadwalkan untuk berangkat ke Bandung mengikuti acara pernikahan adik sepupu yang akan digelar di Cimahi. Namun karena ajakan yang sangat menggiurkan dari Eka, maka saya mengubah jadwal keberangkatan. Saya memutuskan untuk berangkat dengan kereta malam menuju Bandung. Hasil dari berbalas komentar di Path, disepakati bertemu di Hotel Sheraton tempat Eka menginap.

Keesokan harinya  sesuai kesepakatan,  kami bertemu di tempat yang sudah ditentukan. Saya, Eka dan Mbak Indah Juli yang juga kawan blogger sejak jaman baheula. Sebenarnya ada beberapa kawan blogger lainnya tetapi mereka berhalangan hadir. Setelah ritual cipika-cipiki dan ngobrol sebentaran, berangkatlah kami bertiga ke Kulon Progo.

Istimewanya trip dadakan ini, Eka mendapat pinjaman mobil Toyota Innova dari pihak hotel Sheraton. Karena Eka merupakan salah satu tamu yang paling sering menginap jika sedang berada di Yogyakarta dan kerap kali mempromosikan hotel tersebut melalui sosial media tanpa diminta pihak hotel itu sendiri.

Berangkatlah kami bertiga dengan hati yang riang.  Dengan disupiri oleh Eka. Ternyata di balik semua itu, ada kekhawatiran dari Mbak InJul. Mengingat rute yang akan ditempuh cukup menantang. Selain menantang, perjalanannya juga cukup jauh. Menurut Mbak InJul, perjalanan akan ditempuh sekira 1,5 jam. Tetapi Eka meyakinkan Mbak Injul kalau semuanya akan baik-baik saja. Sepak terjang Eka dalam hal setir-menyetir sudah lumayan tinggi. Saya menggelarnya sebagai supir Medan.

Seperti perempuan pada umumnya jika bertemu semua cerita dari a sampai z dibahas.  Tentunya tema tentang dunia blogger. Banyak cerita yang baru saya tahu tentang apa, kenapa dan siapa? Semua dikupas tuntas hingga ke akar-akarnya. Saya hanya sesekali menimpali, kebanyakan hanya menyimak. Oh yah, Eka dan Mbak Injul ini adalah seleblog. Mereka acap kali mewarnai dunia perbloggeran. Namanya sudah terkenal di antara kalangan para blogger. Pembahasan paling berkesan adalah “blogger-blogger sekarang sudah beda yah ekspektasi dengan blogger jaman baheula. Tringggg….cukup itu saja yang dibahas di sini yah 😀

Perjalanan Menuju Kulon Progo

Sekira pukul 11.45, kami memasuki Desa Wisata Kalibiru. Dan di sinilah perjalanan yang mendebarkan itu dimulai. Jalanannya tidak terlalu lebar. Kendaraan secara bergantian untuk naik ataupun turun. Tidak diperbolehkan untuk berpapasan. Setiap ada kendaraan yang akan turun, maka kami harus berhenti untuk membiarkan mereka lewat terlebih dahulu.

Desa Wisata Kalibiru terletak di perbukitan Menoreh pada ketinggian 450 mdpl di Desa Hagrowilis kecamatan Kokap,  Kulon Progo. Berada di sebelah barat kota Yogyakarta.

Apa Yang Menarik di Kalibiru?

Selalu ada alasan dalam setiap mengunjungi suatu tempat. Seperti juga kali ini, rela menempuh perjalanan yang jauh serta mendebarkan untuk sebuah pemandangan yang memesona. Rasanya rugi jika sudah berada di Yogyakarta namun tidak sempat menjejakkan kaki di kawasan Desa Wisata Kalibiru. Beberapa postingan viral yang berseliweran di sosial media membuat rasa penasaran tak terbendung lagi. Dan rasa penasaranlah yang bekerja sehingga keinginan itu akhirnya terwujud.

Udara dingin dan awan yang menggantung sesaat kami tiba di Puncak Desa Wisata Kalibiru. Untuk masuk ke kawasan Puncak Kalibiru, pengunjung diwajibkan untuk membeli tiket seharga Rp. 5000,-./orang. Sangat murah untuk sebuah pemandangan yang sangat eksotis.

Di pintu gerbang, ada beberapa tukang ojek yang akan menawarkan jasanya untuk  mengantarkan ke atas. Kami pun tergoda dengan tawaran itu. Pikirnya, perjalanan yang akan dilalui cukup jauh, ternyata hanya beberapa meter saja. Rasanya pantat belum duduk rapat, tapi motor sudah direm oleh tukang ojek. Ohh ternyata cuman segini tokh jaraknya. Selebihnya kita tetap harus berjalan kaki untuk sampai ke puncak.

Karna jalannya menanjak, maka timbullah ngos-ngosan. Udara dingin pegunungan sangat terasa di puncak. Rasa letih terbayarkan oleh pesona panorama yang ditawarkan. Hujan gerimis menambah syahdunya suasana pemandangan Kalibiru dengan Waduk Sermo yang terlihat jelas. Yang menjadi daya tarik Objek Wisata Kalibiru ini adalah adanya sebuah anjungan di atas pohon yang dijadikan sebagai gardu pandang. Untuk menikmati fasiltas ini, pengunjung membeli tiket seharga Rp. 15.000/orang. Kami bertiga pun sepakat untuk memakai jasa fotografer yang sudah tersedia untuk mengabadikan momen tersebut. Tarif untuk satu orang dengan 5 kali pemotretan dihargai Rp. 25.000,-

Awalnya saya agak ragu untuk naik ke atas pohon tersebut. Jantung berdegub kencang saat melihat tangga. Saya termasuk pengidap phobia ketinggian. Tetapi karena diberi semangat oleh Eka dan Mbak Injul, akhirnya saya nekad untuk naik ke atas. Dan akhirnya saya berhasil naik dipandu oleh petugas meski lutut gemetaran. Demi eksis di tempat wisata kekinian, semua rasa takut dibuang jauh-jauh. Pasrah!

Terdapat tiga spot foto di atas pohon berlatar belakang waduk Sermo dan Perbukitan Menoreh yang bisa dicoba pengunjung. Sebelum naik ke spot foto, pengunjung akan dipasangkan sebuah pengaman berupa tali yang diikat ke pinggang untuk menjamin keselamatan. Sehingga kemungkinan terjatuh sangat kecil terjadi. Saat di atas, saya tidak pernah berani menatap ke bawah. Ngeri! Jurang bo….

Setelah puas menikmati pemandangan Kalibiru, kami pun memutuskan untuk kembali ke Yogyakarta. Pulang dengan perasaan bahagia karena rasa penasaran sudah terbayarkan.

Perjalanan pulang memilih arah yang lain. Bukan rute yang kami lalui saat kedatangan. Tetapi tidak jauh beda perjalanannya, sama-sama curam dan mendebarkan. Saya tidak khawatir dan tetap percaya pada kelihaian Eka menyetir.  Tak lama kemudian, tanpa kami sadari ternyata ada mobil truk yang berlawanan arah. Sementara di bagian kiri, jurangnya lebar menganga. Eka memang patut diacungi jempol, dengan sigap dia memaju mundurkan mobil sehingga berhasil melewati jalanan yang curam itu. Pyuh…..Alhamdulillah yah…..

(((((((((((((((Eka….dikaw memang supir Medan yang canggih)))))))))))))

***********

Punya cerita yang seru dan menegangkan di Wisata Kalibiru gak?

 

About Ira Puspita

Check Also

#TravelWork-Bandung 2016 : Akhirnya ke Tangkuban Parahu

Sudah berkali-kali ke Bandung, namun belum sekalipun mengunjungi Tangkuban Parahu. Tahun 2015 lalu, saya  ke …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fourteen − thirteen =