Home / Me & My Friends / #PaluTrip : Sakaw Jalan-Jalan

#PaluTrip : Sakaw Jalan-Jalan

Beberapa hari ini saya dilanda penyakit sakaw jalan-jalan. Dan penawarnya adalah jalan-jalan. Tidak ada keharusan jalan-jalannya harus ke suatu tempat yang ramai atau tempat mainstream. Tetapi di manapun, asal judulnya tetap jalan-jalan.

Suatu waktu saya iseng bercanda di grup bbm yang kami punya. Iseng mencolek teman-teman saya untuk mengikuti hasrat jalan-jalan yang sudah sampai ke ubun-ubun.

“Ke Palu yuk…mumpung ile masih di sana” gayung bersambut, serempak dijawab oleh mereka semua “hayuk”.

Oh yah yang saya maksud “mereka” adalah sahabat-sahabat saya sejak di bangku SMA dulu. Dan kami mempunyai grup messenger di bbm. Maka terpilihlah Palu sebagai destinasi jalan-jalan kami sebagai penawar sakaw.

Kenapa harus Palu?  Alasan paling utama, pilih lokasi liburan yang dekat dan budget paling murah. Yang penting hasrat liburan tersalurkan. Alasan kedua, karena saya belum pernah ke Palu. Jadi pembenaran untuk khatam mengelilingi penjuru nusantara tidak terbantahkan lagi.

Delapan belas september dipilih sebagai hari keberangkatan kami ke Palu. Dengan menggunakan burung besi singa air yang paling banyak delaynya. Tidak ada pilihan lain selain itu. Beruntung mendapat harga paling murah. Hanya dengan delapan ratus ribu penerbangan pulang pergi dari Makassar ke Palu. Bersama Ayu dan Melati memulai petualangan ke Palu.

Penerbangan ke Palu memakan waktu kurang lebih satu jam. Di terminal kedatangan sudah menunggu Ile dan tim penjemput lainnya. Akhirnya, bisa menjejak Palu juga. Bandaranya sementara tahap pembangunan. Meski tidak terlalu ramai tapi ada aktifitas bepergian yang terlihat.

Agak lama kami menunggu bagasi, ada sedikit rasa khawatir. Jangan -jangan bagasinya hilang atau ketinggalan. Tapi rasa khawatir itu menguap tatkala dari kejauhan travel bag kami terlihat. Tidak tahu juga kenapa bisa muncul rasa khawatir kehilangan bagasi.

Welcome to Palu

Cuaca panas menyambut kedatangan kami. Gerah! Kesan pertama yang saya tangkap adalah Palu dikelilingi pegunungan dan lautan. Nampak dari kejauhan gunung-gunung berbaris. Dan di bagian lain terlihat suasana pantai. Suasana kotanya ramai, aktifitas lalu lintas yang terlihat semrawut. Pemakai jalan sepertinya mementingkan dirinya sendiri. Agak ngeri juga melihat pemakai jalan yang seenaknya. Ternyata masih ada yang lebih parah dari Makassar.

Tapi apapun itu, mari kita nikmati kota Palu. Menikmati setiap kejutan-kejutannya. Dan yang paling penting adalah mari menjajal dan menikmati kulinerannya. Yuk…yak…yuk..!

 

 

About Ira Puspita

Check Also

#TravelWork-Bandung 2016 : Akhirnya ke Tangkuban Parahu

Sudah berkali-kali ke Bandung, namun belum sekalipun mengunjungi Tangkuban Parahu. Tahun 2015 lalu, saya  ke …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five + 13 =