Home / Journey / Pulau Sembilan : Surga Kecil Yang Tak Terkenal [Part 2]

Pulau Sembilan : Surga Kecil Yang Tak Terkenal [Part 2]

Akhirnya setelah melewatkan waktu 1 jam 15 menit, kapal yang kami tumpangi bersandar di dermaga kecil yang ada di Pulau Kodingareng. Pulau Kodingareng adalah salah satu pulau berpenghuni yang penduduknya cukup padat. Di pulau ini keluarga besar Ary teman kami dari komunitas Blogger Sinjai berasal. Kami tak lantas menuju Pulau Larea-rea, sejenak melepas penat sambil menikmati suguhan yang diberikan di rumah Ary. Penduduk pulau Sembilan menyambut kami dengan ramah. Setelah menghabiskan sejenak waktu di rumah Ary, kami lantas diajak untuk berkeliling pulau. Inilah momen yang kami tunggu. Tak peduli dengan teriknya sinar matahari yang membakar kulit. Pun saya lupa dengan program perawatan yang telah saya jalani beberapa bulan terakhir ini. Semua karena hipnotis keindahan alam pulau Sembilan.

Ibukota kecamatan dari pulau Sembilan adalah pulau Kambuno. Di situlah pusat dari segala perkantoran yang ada di pulau Sembilan. Selain itu juga terdapat tower dari salah satu operator selular, jadi tak perlu khawatir kehilangan sinyal saat berada di kawasan tersebut. Tak hanya itu, penduduk pulau Sembilan juga dimanjakan oleh fasilitas internet. Di pulau ini terdapat jaringan wifi yang dipancarkan melalui kantor kecamatan. Fasilitasnya dapat dinikmati secara gratis. Tujuannya adalah agar penduduk pulau Sembilan tidak gagap tekhnologi. Keren bukan?

Harus saya akui, Sinjai berkembang pesat dalam hal tekhnologi. Pemerintah sangat peduli akan kemajuan tekhnologi di daerahnya. Karena dengan majunya tekhnologi, maka masyarakat Sinjai tidak akan tertinggal dalam hal informasi. Apalagi menyambut pasar bebas nantinya. Saya semakin kagum akan pulau Sembilan ini, banyak kejutan-kejutan kecil di setiap sisinya.

Kapal yang membawa kami melaju pelan menyusuri semua pulau-pulau yang terdapat di kawasan pulau Sembilan. Meski tak mampir, tapi kami sangat menikmatinya. Sungguh ini sebuah pengalaman yang sangat menyenangkan. Warna birunya langit dan birunya laut berpadu menjadi sebuah pemandangan yang eksotis. Rasanya sudah tak sabar lagi untuk segera menceburkan diri ke dalamnya. Setelah puas mengelilingi pulau-pulau, kami kembali ke Kodingareng untuk menjemput bekal makanan yang akan kami santap nantinya di Pulau Larea-rea. Serta beberapa orang keluarga Ary yang berminat bergabung bersama kami menikmati indahnya pulau Larea-rea.

Tak terasa, akhirnya kapal bersandar di dermaga Larea-rea. Butuh 15 menit untuk mencapai tempat tersebut. Pulau Larea-rea tidaklah terlalu besar. Di tengah pulau terdapat bukit karang yang ditumbuhi pohon-pohon dan semak belukar. Dikelilingi hamparan pasir putih yang elok. Sepintas, penampakan Larea-rea hampir mirip dengan bukit karang yang ada di tanah lot. Pun tempat ini tak kalah menariknya dibanding dengan destinasi wisata lainnya yang ada di Indonesia. Hanya sayangnya Larea-rea belum terekspos dan terendus media, apalagi program acara travelling yang sering ditayangkan di televisi-televisi nasional.

Sesaat kami tiba di Larea-rea, kami agak kesulitan mencari tempat untuk menyimpan barang-barang karena sebelumnya sudah ada rombongan lain yang sedang menikmati bekal yang mereka bawa. Beruntung, ayah Ary membawa parang sehingga bisa mencari tempat di atas bukit karang dengan menebas semak belukarnya terlebih dahulu. Setelah mendapatkan tempat yang teduh, para wanita-wanita yang merupakan keluarga Ary dengan sigapnya mempersiapkan segala perlengkapan untuk pembakaran ikan dan cumi. Sementara kami, sibuk mencari titik yang pas di puncak bukit karang. Apalagi kalau bukan untuk berfoto lalu mempostingnya di semua akun social media. Ya…ya…ya blogger itu memang narsis 😛

Dari puncak bukit karang, pemandangan laut lepas sangatlah indah. Sejauh mata memandang terlihat perpaduan warna yang memikat. Hamparan laut berwarna biru tua berpadu dengan biru langit dan awan yang putih dan terkadang diselingi dengan warna hijau tosca. Sempurna! Tentunya momen-momen seperti itu tak dilewatkan begitu saja. Semua terekam oleh kamera. Puas berfoto-foto kami lantas turun ke bawah. Yeay….saatnya untuk mencebur ke laut.

Tanpa membuang-buang waktu, kami langsung menceburkan diri ke laut yang sejak tadi sudah memanggil-manggil. Berenang di air laut yang jernih sambil menikmati pemandangan pulau merupakan sebuah keindahan tersendiri. Suara canda tawa kami bersaing dengan suara ombak. Sejak awal tidak berniat untuk menceburkan diri, tetapi ternyata saya tidak dapat menahan godaannya. Tidak ada yang lolos dari air laut karena jika tidak berniat untuk mandi, akan ditarik secara paksa agar semuanya turun ke laut. Sungguh menyenangkan bisa bercengkerama antar lintas komunitas.

Sementara itu, daeng Ipul dan Anbhar mencoba untuk snorkeling. Mengintip alam bawah laut pulau Larea-rea. Sayangnya, alam bawah laut ternyata sudah rusak, sebagian besar karang sudah hancur dan berwarna putih. Penyebabnya adalah pengeboman ikan. Penduduk setempat tidak teredukasi akan pentingnya menjaga keindahan bawah laut. Inilah yang menjadi salah satu tugas terbesar buat pemerintah setempat untuk melakukan sosialisasi akan pentingnya lingkungan bawah laut. Sama pentingnya dengan mengembangkan potensi wisata yang ada di kawasan pulau Sembilan ini. Agar kelak menjadi desrtinasi wisata yang wajib dikunjungi jika berkunjung ke Sinjai dan Sulawesi Selatan pada umumnya.

Pada dasarnya perairan di Sinjai memiliki titik-titik penyelaman yang menarik. Terumbu karangnya cukup beragam. Tentu bagi para nelayan, tempat ini sangat baik untuk medapatkan ikan karang, seperti kerapu dan lobster. Namun kerusakan terumbu karang cukup meresahkan. Karena jika itu terjadi, maka tidak ada lagi sumber penghidupan dari laut yang dapat mereka peroleh. Tidak ada lagi ikan kerapu, lobster dan lainnya. Padahal pulau Sembilan terkenal dengan penghasil ikan-ikan ekspor dan juga lobster yang bernilai tinggi. Pulau Sembilan adalah potret kehidupan yang teramat dinamis dan menantang. Di balik kekurangannya, tersimpan kelebihan yang dia miliki.

Kami menghabiskan waktu dengan menikmati air laut dan berenang. Tak lama kemudian, panggilan makan terdengar. Ini hal yang paling menyenangkan. Nasi kuning dan berbagai macam ikan bakar serta cumi bakar menjadi santapan kami siang itu. Sungguh suatu nikmat yang terkira. Semilir angin yang menerpa menambah nikmatnya suasana makan siang di Larea-rea.

Sayangnya di pulau tersebut belum ada fasilitas yang memadai. Belum ada resort ataupun bungalow yang bisa digunakan untuk beristirahat. Semuanya masih murni tanpa sentuhan tangan-tangan investor. Kelak, saya berharap pulau Larea-rea dapat dibenahi agar para wisatawan tertarik untuk menjejakkan kakinya di pulau tersebut. Karena ketiadaan infrastruktur ini yang menjadi penghambat berkembangnya wisata bahari di kawasan Pulau Sembilan. Potensi alam Pulau Sembilan yang terbilang besar harus dikelola secara profesional dan melibatkan masyarakat sekitar. Selain untuk mempromosikan objek wisata di Sinjai, juga untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan mengelola berbagai potensi ekonomi di bidang perikanan dan kelautan.

Cukup lama kami bermain dengan laut, sehingga tak terasa sore telah menjelang. Sekitar pukul empat sore kami akhirnya meninggalkan Larea-rea. Karena di pulau tak ada air tawar, maka kami membiarkan pakaian kering di badan. Di sepanjang perjalanan pulang menuju kota Sinjai, tak ada lagi suara-suara berisik seperti halnya saat berangkat. Saya bahkan sempat terlelap karena seharian capek bermain laut. Trip ke pulau Sembilan kali ini sangat menyenangkan dan menambah pengalaman baru serta pengetahuan tentang pulau Sembilan beserta jajaran-jajaran pulau kecilnya.

Tak terasa akhirnya kapal yang membawa kami kembali bersandar di dermaga Lappa. Pertanda trip pulau Sembilan pun berakhir. Oleh-oleh kulit gosong tak ada artinya dibanding keseruan-keseruan yang tercipta serta suguhan keindahan alam pulau Sembilan. Suatu hari saya akan kembali untuk mengeksplore semua pulau-pulau kecilnya. Rasanya belum puas berpetualang tetapi harus segera meninggalkan Pulau larea-Rea karena malam harinya rombongan teman-teman @paccarita harus kembali ke Makassar.

About Ira Puspita

Check Also

#KaltimTrip-2016: Mendadak ke Balikpapan

Pada akhirnya saya menapakkan kaki di Balikpapan. Ini kota kedua yang saya kunjungi di Borneo …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fourteen − 10 =