Home / Journey / Toraja: Meski Terkubur Mereka Tetap Memukau

Toraja: Meski Terkubur Mereka Tetap Memukau

Dua minggu lalu bertepatan dengan long weekend saya berkesempatan mengunjungi Toraja. Liburan mendadak tanpa rencana matang sebelumnya. Sejak beberapa bulan sebelumnya, yang kami rencanakan adalah liburan ke Bali. Tapi karna kecerobohan, saya ataupun mereka lupa booking tiket pesawat. Alhasil, menjelang hari H harga tiket melambung tinggi. Maka kami memutuskan menunda untuk ke Bali. Jadilah kami memilih Toraja. Liburan kali ini saya berangkat dengan sahabat-sahabat yang kami gelari dengan grup JINS. Entah apa makna dari jins itu sendiri. Gelaran itu sendiri kami dapat dari teman-teman alumni Sma. Menurut mereka Jins itu adalah jomblo-jomblo bahagia. Karna diantara kami bersahabat belum ada yang menikah. Jiahh dibahas ūüėõ

Toraja atau lebih dikenal dengan Tana Toraja. Siapa sih yang tidak kenal dengan daerah ini. Daerah yang sangat menjaga budaya adat istiadat mereka. Ini kali kedua saya mengunjungi tempat ini. Sebelumnya saya ke sini bukan untuk  travelling semata tapi bertepatan  dengan acara pernikahan salah seorang kerabat yang saya hadiri. Saya masih belum puas mengunjungi objek wisata yang ada di Toraja ini. Juga kunjungan saya yang pertama tidak meninggalkan jejak karna tidak ada dokumentasi sama sekali. Makanya saya berniat harus kembali dan memuaskan diri  untuk berfoto.

Kami berangkat tepat pukul 12.00 dari Sinjai dan tiba di Toraja pukul 21.30. Jarak tempuh yang cukup lama karna kami kebanyakan mampir-mampirnya. Normalnya jarak tempuh Sinjai ke Toraja kurang lebih 6 – 7 jam saja. Untuk akomodasi, saya memilih wisma Monica yang ada di kawasan Rantepao. Rantepao merupakan ibukota Kabupaten Tana Toraja Utara, kabupaten pemekaran dari kabupaten Tana Toraja. Penginapannya bersih dan nyaman. Untuk 2 hari 2 kamar, kami harus membayar 900.000. Tidak termasuk kelas backpackers sih.

Objek wisata di Tana Toraja hanya sebatas rumah adat dan kuburan. Kalau tidak suka yang berbau mistis disarankan untuk tidak ke Tana Toraja. Secara hanya ada tengkorak serta tulang belulang yang tergeletak di mana-mana. Mungkin kalau ditanya, apa sih yang membuat saya tertarik dengan Tongkonan serta kuburan di Toraja. Rasa penasaran yang membuat saya untuk ke Toraja. Meski harus berjuang melawan rasa takut. Kalau beruntung kita bisa menyaksikan upacara adat pemakaman yang biasa digelar secara besar-besaran. Tapi ini biasanya dilaksanakan dalam waktu-waktu tertentu saja. Acara adat pemakaman ini biasa disebut dengan Rambu Solo. Rambu solo adalah upacara pemakaman adat yang hukumnya wajib bagi keluarga yang ditinggalkan sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada anggota keluarganya yang telah meninggal.

Kemeriahan upacara Rambu Solo ditentukan oleh status sosial keluarga yang meninggal. Juga bisa dilihat dari jumlah hewan yang dikorbankan. Semakin banyak kerbau disembelih, semakin tinggi status sosialnya. Biasanya, untuk keluarga bangsawan jumlah kerbau yang disembelih berkisar antara 24 sampai 100 ekor. Sedangkan untuk golongan menengah berkisar 8 ekor kerbau ditambah 50 ekor babi.Harga kerbau di Toraja sangat menakjubkan, bisa mencapai hingga ratusan juta rupiah. Apalagi kerbaunya yang berwarna putih atau biasa disebut tedong bonga.

Yang tidak kalah menarik wisata di Toraja antara lain wisata kuburan. Cara orang Toraja menguburkan keluarga mereka yang meninggal terbilang sangat unik. Jenazah tidak di kuburkan ke dalam tanah tapi disimpan di tebing atau gua batu. Berkunjung  ke tempat ini akan membuat kita semakin mengerti kearifan lokal yang dipegang teguh oleh masyarakat Toraja untuk memelihara tradisi turun temurun dari nenek moyang mereka.

Matahari pagi menyambut hari pertama kami di Toraja. Setelah sarapan ala kadarnya, kami bergegas memulai petualangan  menuju Kete Kesu. Sekitar kurang lebih 4 Km dari kota Rantepao tepatnya di desa Bonoran. Kete Kesu merupakan satu dari sekian banyak lokasi wisata di Kabupaten Toraja Utara yang cukup menarik minat turis manca negara maupun domestik. Setiap wisatawan yang ke Toraja, akan menyempatkan diri berkunjung ke objek wisata yang masih menyimpan panorama kepurbakalaan berupa kuburan batu yang diperkirakan berusia sekitar 300 tahun bahkan lebih tua lagi. Apa yang menarik dari Kete Kesu? Sebuah area untuk melaksanakan berbagai perayaan, ritual dan upacara adat termasuk serentetan acara dalam proses Rambu Solo.

Ketika memasuki area kete Kesu mata akan dimanjakan dengan deretan tongkonan yang berjejer rapi dan berhadap-hadapan dengan lumbung beras (alang) serta lengkap dengan berbagai ornamen seperti ukiran khas Toraja dan tanduk kerbau yang disusun di depan. Semakin banyak dan semakin tinggi tanduk yang tersusun menandakan semakin tinggi derajat sosial penghuninya. Jelas terlihat aura mistis dengan tiang tongkonan yang dibalut dengan tanduk-tanduk kerbau. Keistimewaan Kete Kesu adalah bangunannya yang benar-benar masih asli, ditandai dengan atapnya yang terbuat dari anyaman daun.

Pada bangunan-bangunan tradisional yang baru, banyak digunakan atap seng sebagai pengganti anyaman daun. Di Kete Kesu juga terdapat semua unsur penting dalam budaya masyarakat Toraja, yaitu tongkonan (rumah), alang (lumbung padi), kuburan dan tempat pembuatan kerajinan ukiran. Sebagai penganut narsis berlebih, kami pastinya tidak melewatkan moment untuk foto-foto. Segala macam pose terekam di kamera. Mulai dari gaya alay sampai gaya ngga banget deh¬† ūüėÜ Puas berfoto-foto dan menjelajahi¬†¬†keunikan depannya, kami pun menjelajah ke bagian belakang Kete Kesu.

Tak jauh di belakang tongkonan terdapat area pemakaman berupa lubang-lubang pada batu kapur. Terlihat beberapa kuburan dengan foto yang terpampang di depan makam. Dengan mudah akan menemukan tumpukan tulang-belulang dan tengkorak yang berserakan. Tulang belulang dan tengkorak itu di simpan pada peti mati tradisional (erong) yang berbentuk perahu. Juga ada peti mati yang berbentuk kerbau dan babi dengan pahatan dan ukiran khas Toraja yang menghiasi. Bukan penganut narsis namanya kalau tidak mengabadikan semua momen yang ada. Dengan santainya kami bergaya dengan tulang-belulang dan tengkorak itu. Namun tidak bisa dipungkiri, suasana mistis sangat terasa.

Puas berfoto kami bergegas naik ke atas tebing yang tingginya¬†¬Ī 10 ¬†meter. Melewati anak tangga dan menuju bagian belakang tebing yang terdapat gua tempat menyimpan peti jenazah. Dengan menyewa alat penerangan yang sudah disediakan oleh guide yang siap mengantar masuk ke dalam gua. Awalnya saya ragu untuk masuk, mengingat saya mengidap phobia gelap. Tapi lagi-lagi penasaran mengalahkan rasa takut yang saya punya. Akses masuk ke dalam gua sangatlah memacu¬†adrenalin. Tapi akhirnya saya bisa menaklukkannya. Bukan hanya tongkonan, tulang-belulang, tengkorak serta beberapa kuburan milik para bangsawan yang didesain cukup unik yang bisa dijumpai di tempat ini. Puluhan bahkan ratusan hasil kerajinan tangan dan senjata tajam khas Toraja banyak dijajakan di sekitar lokasi Kete Kesu.

Hari semakin siang, perjalanan kami lanjutkan menuju Londa. Adalah salah satu kompleks pemakaman  yang unik.  Londa merupakan bebatuan curam di sisi makam khas Tana Toraja. Salah satunya terletak di tempat yang tinggi dari bukit dengan gua dimana peti-peti mayat diatur sesuai dengan garis keturunan keluarga. Terletak sekitar 5 km ke arah selatan dari Rantepao. Setiba kami di Londa, gerimis menyambut kedatangan kami. Awan putih terasa penuh di langit Toraja siang itu. Gerimis sepertinya mulai berubah menjadi hujan. Halilintar mulai bergumuruh di angkasa. Sambil mempercepat langkah, kami bergerak menuju gua. Kami diantar oleh guide yang membawa lampu petromaks untuk menerangi jika sudah di dalam gua nantinya. Kami disuguhi pemandangan berwarna hijau sepanjang jalan menuju gua. Kali ini saya tidak gentar lagi ketika ditantang untuk masuk ke dalam gua. Karna sebelumnya saya sudah pernah  masuk.

Di bagian atas pintu masuk gua, banyak terdapat patung orang-orangan atau tau-tau dalam bahasa Toraja. Tau-tau ini dibuat menyerupai orang yang meninggal dan dimakamkan di dalam gua Londa ini. Peti mati yang usianya sudah puluhan atau bahkan ratusan tahun tersusun di tebing-tebing gua. Semakin tinggi letak peti matinya semakin tinggi juga status sosialnya. Konon katanya di dalam peti itu terdapat barang-barang berharga yang ikut tersimpan. Petinya unik dan terkesan mewah. Makanya, itu yang menjadi salah satu alasan kaum bangsawan yang meninggal ditempatkan di bagian atas gua. Dikhawatirkan ada tangan jahil yang berniat mencuri barang berharga si almarhum tersebut. Kalau disimpan di atas, kecil kemungkinan ada yang berani untuk naik ke sana. Juga ada kepercayaan orang Toraja, semakin tinggi letak kedudukan makam maka semakin mudah orang yang meninggal mencapai surga.

Tantangan untuk masuk ke dalam gua saya terima. Dengan modal percaya diri dan keberanian yang kembang-kempis saya mengikuti guide untuk menaklukkan Londa. Dibutuhkan kelincahan dan keahlian untuk menunduk agar tidak terbentur langit-langit gua yang rendah. Semakin masuk ke dalam akan bertemu dengan beberapa tengkorak. Seakan mengucapkan selamat datang kepada kami. Di sebelah kanan ada tumpukan peti-peti mati, kebanyakan sudah lapuk serta keropos. Isinya berserakan tetapi masih ada juga yang utuh dijumpai. Banyak terlihat puntung rokok yang diselipkan diantara tengkorak-tengkorak dan peti matinya. Juga terdapat beberapa minuman kaleng dan makanan kecil. Rupanya minuman kaleng dan makanan kecil itu adalah semacam sesajen untuk almarhum tersebut.

Semakin ke dalam semakin lembab dan hawa dingin sangat terasa. Di sini terdapat sepasang tengkorak Romeo and Julietnya Toraja. Mereka adalah sepasang kekasih yang bunuh diri karena cintanya tidak direstui oleh kedua orang tua mereka. Pasangan ini sangat melegenda di bumi Toraja. Kisah cinta dua sejoli ini ditentang oleh keluarga karna mereka masih memiliki hubungan darah yang sangat dekat yakni sepupu sekali. Bagi orang Toraja saudara sepupu yang seperti ini masih dianggap sama seperti saudara kandung. Keremangan gua menambah semakin terasanya aura mistis, membuat bulu kuduk merinding. Hari beranjak sore, di luar hujan semakin deras mengguyur bumi Toraja. Kami memutuskan untuk berteduh sambil mencari objek foto yang menarik.

Setelah hujan agak reda, kami beranjak meninggalkan kawasan wisata Londa. Sedari tadi perut sudah bergejolak meminta haknya. Dengan rekomendasi seorang teman kami memilih Warung Ayam Penyet yang ada di seberang pasar Rantepao. Katanya di situ makanannya tidak diragukan kehalalannya. Mencari makanan halal di Toraja mesti ekstra hati-hati secara  penduduk Toraja mayoritas non muslim. Tapi jangan khawatir meskipun tidak begitu banyak, makanan halal masih bisa didapatkan di Toraja. Sore sebentar lagi akan berganti, kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Sudah cukup perjalanan untuk hari ini. Tak dapat menyembunyikan rasa lelah yang ada, setelah seharian berwisata kuburan di Toraja. Karna menjelahi keunikan Toraja tak pula cukup sampai di situ. Masih banyak wisata menarik lainnya yang dapat dikunjungi jika memiliki waktu luang yang cukup.

About Ira Puspita

Check Also

#TravelWork-Bandung 2016 : Akhirnya ke Tangkuban Parahu

Sudah berkali-kali ke Bandung, namun belum sekalipun mengunjungi Tangkuban Parahu. Tahun 2015 lalu, saya¬† ke …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × 5 =