Home / Journey / Toraja Trip: Batutumonga itu di mana?

Toraja Trip: Batutumonga itu di mana?

Tulisan ini sebenarnya sudah lama mengendap dalam draft, dan baru sekarang saya sempat menyelesaikannya. Ini merupakan sambungan posting sebelumnya yang ada di sini.

Matahari pagi mulai menampakkan sinarnya ketika kami beranjak meninggalkan hotel. Kami memutuskan untuk berkunjung ke Batutumonga. Dengan modal peta dari petugas hotel, kami memulai petualangan untuk menuju Batutumonga. Sebelumnya saya sudah pernah ke Batutumonga tetapi ternyata saya masih keliru di mana letaknya.

Rencananya hari terakhir di Toraja, kami akan mengunjungi beberapa obyek wisata lagi. Batutumonga, kuburan bayi di atas pohon tarra di kampung Kambira, kuburan batu di Lemo dan mengunjungi tempat penenunan kain khas Tana Toraja yang ada di desa Sa’dan. Kami memutuskan untuk mengunjungi Batutumonga dulu sesuai petunjuk dari receptionist hotel. Dengan pertimbangan Batutumonga adalah rute yang terjauh dari semua yang akan kami kunjungi. Menurut mereka untuk sampai ke lokasi bisa menghabiskan waktu sekitar satu jam bahkan bisa lebih.

View fromBatutumonga

Batutumonga adalah daerah pegunungan yang ada di kaki gunung sesean, yang berada di wilayah Sa’dan Toraja Utara. Untuk sampai ke sana dibutuhkan perjuangan. Setidaknya menurut saya :) Bagaimana tidak, perjalanan menuju Batutumonga dipenuhi dengan drama. Rasanya sudah lama menempuh perjalanan tapi belum juga ada tanda-tanda penampakan Batutumonga. Sebelum tersesat lebih jauh, ada baiknya bertanya pada penduduk setempat. Ternyata jalan yang kami lalui bukanlah jalur umum yang sering dilewati.

Kami mengikuti petunjuk yang diberikan penduduk setempat, meski sedikit agak bingung tapi akhirnya kami menemukan jalannya. Well….lagi-lagi another drama. Bensin mobil  nyaris habis, dan itu baru disadari si driver ketika kami sudah berada jauh dari keramaian. Sontak saya mendadak bad mood karena ulah si driver. Penjual bensin pastilah sangat susah ditemukan, rumah penduduk saja saling berjauhan. Kembali ke kota Toraja bukan usul yang cerdas karena bisa dipastikan bensinnya tidak akan mencukupi. Akhirnya kami nekad saja untuk terus melanjutkan perjalanan dengan harapan menemukan penjual bensin eceran. Kenekatan saya memilih untuk terus melanjutkan perjalanan karena mengikuti kata hati.

Sepanjang perjalanan semuanya hanya diam membisu. Dalam hati saya mengomel menyesalkan kecerobohan si driver. Beruntung setelah menempuh beberapa ratus meter, kami menemukan kedai kopi dan mereka juga menjual bensin. Argh…lega rasanya. Satu masalah selesai, kami pun melanjutkan perjalanan ke Batutumonga. Suasana kaku dan tegang sedikit demi sedikit mulai mencair. Saya mensugesti diri agar bisa menikmati perjalanan tanpa raut wajah yang cemberut :D

Saya pernah  membaca  buku tentang travelling yang mengatakan bahwa perjalanan akan membuatmu mengenali karakter diri dan orang-orang di sekitarmu. Perjalanan akan membuat hubungan seseorang dengan yang lain akan lebih dekat atau malah menjadi renggang.  Karena dalam perjalanan itu, karakter asli seseorang akan keluar pada saat lelah mulai menyerang dan emosi berkecamuk kala keinginan tak sejalan dengan yang di depan mata. Sehingga yang namanya toleransi dan empati sangat memegang peranan di dalamnya. Dan seperti itulah kondisi kami saat itu.

Sepanjang perjalanan pemandangan yang indah dan hijau menyejukkan mata. Meski jalan yang tidak mulus tetapi semua itu terbayar dengan suguhan pemandangannya yang eksotis. Sangat disayangkan jalan yang tidak mulus padahal daerahnya merupakan desnitasi wisata yang tidak boleh dilewatkan jika berkunjung ke Toraja.

Adalah sebuah kekeliruan yang telah saya lakukan. Toraja yang identik dengan kuburan batu, maka saat berkunjung ke Batutumonga pun saya mencari  kuburan batunya. Kami terus berjalan tanpa berhenti. Terus mencari dan akhirnya melewati perbatasan desa. Kami menyadarinya setelah menemukan ujung jalan. Karena merasa tersesat, akhirnya saya beranikan diri bertanya pada ibu-ibu yang kebetulan lewat. Si ibu mengatakan kalau kami sudah melewati Batutumonga. Dan saya baru mengerti kalau di Batutumonga itu tidak ada destinasi wisata seperti yang ada di Londa atau pun Kete Kesu. Jlebbbb…..*selfkeplak* Tengsin?! Jelas! hahaha…

Akhirnya kami putar balik dan menuju ke sebuah kedai kopi yang ada di bukit. Dari kedai itu, kita bisa menyaksikan titik keindahan panorama Batutumonga dari ketinggian. Udara yang sejuk ternyata berfungsi untuk mengendorkan urat-urat syaraf yang sempat tegang karena berbagai macam drama. Menghirup segarnya udara pegunungan adalah nikmat yang tak terkira. Tak henti-hentinya saya bersyukur karna bisa menyaksikan dan merasakan anugerah ini. Di sini lah kekuasaan Tuhan diperlihatkan. Betapa dia bisa menciptakan segalanya.

Kesalahan saya adalah tidak pernah  mencari tahu ada apa di Batutumonga itu. Sebagai onliner saya merasa gagal. ihik…Tetapi saya tidak mau berlama-lama menyesali kekeliruan itu. Kekeliruan saya berawal dari tidak adanya plang atau semacam informasi apa pun yang tampak di titik pemandangan ini yang menyatakan bahwa saya telah tiba di Batutumonga. Seharusnya sebagai daerah wisata, hal sekecil itu tidak boleh terlewatkan. Setidaknya ada semacam gapura yang bertuliskan  ”Selamat datang di Batutumonga”.

Kami tidak berlama-lama di Batutumonga, mengingat masih ada beberapa destinasi lainnya yang akan kami kunjungi. Setelah puas mengabadikan setiap momen, kami pun meninggalkan Batutumonga dengan sejuta cerita kedodolan. Saya berjanji suatu waktu jika berkunjung lagi ke Toraja, saya akan kembali ke Batutumonga. Rasanya belum puas menikmati pemandangan alam yang begitu natural. Sangat pantas jika Batutumonga diberi predikat sebagai salah satu tempat terindah yang ada di Tana Toraja. Dari tempat ini dengan sangat mudah akan melihat sawah luas yang membentang.

Jika suatu waktu berkunjung ke Tana Toraja dan berniat menjejakkan kaki di Batutumonga, petunjuk jalannya adalah teruslah menanjak hingga mencapai Batutumonga, apabila bertemu satu tempat di mana terdapat beberapa homestay dan coffe shop serta suguhan pemandangan luar biasa ciamik, itu lah Batutumonga.

About Ira Puspita

Check Also

#TravelWork-Bandung 2016 : Akhirnya ke Tangkuban Parahu

Sudah berkali-kali ke Bandung, namun belum sekalipun mengunjungi Tangkuban Parahu. Tahun 2015 lalu, saya  ke …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seven + eleven =