Home / Journey / #TourDeJava : Berwisata Kuliner hingga ke Madura

#TourDeJava : Berwisata Kuliner hingga ke Madura

Sudah menjadi kebiasaan saya dengan sahabat-sahabat tercinta adalah sebisa mungkin dalam setahun meng-agendakan untuk jalan-jalan. Sekedar pelepas kejenuhan dengan berbagai macam aktifitas pekerjaan dan lain-lainnya. Karena terinsipirasi dari film 5 cm yang pernah hits di layar lebar, kami memilih Bromo sebagai destinasi liburan. 5 cm bercerita tentang pendakian ke Mahameru, tapi karna kami tidak sanggup mendaki Mahameru, makanya memilih Bromo yang agak mirip dengan Mahameru 😀 *ahlesyan* Setelah melewati berbagai macam diskusi, kami pun memutuskan untuk mengeksplore beberapa kota. Tanggung sekali  rasanya jika sudah menjejakkan kaki di Malang tapi tidak melanjutkan perjelajahan di kota lainnya yang ada di Pulau Jawa.

20131109_052206(1)

Saya menggelari trip ini dengan hestek #TourDeJava. Seperti biasa, sayalah yang bertugas menyusun semua itinerary liburan. Mengurus semuanya sendiri, itung-itung belajar menjadi guide. ihik 😆 Akhirnya diputuskan destinasi liburannya ke Surabaya-Malang-Solo dan terakhir ke Jogja. Dengan lama perjalanan selama 8 hari 7 malam. Beruntung saya masih bisa kabur dari kantor. Pura-pura amnesia saja kalo punya kantor. Mencari pembenaran kalau jalan-jalan kali ini sebagai pelepas penat pasca ujian cepeenes yang nyaris memecahkan kepala saking susahnya soal-soalnya *curcol*

Makassar – Surabaya

Perjalanan ke Surabaya ini, bersama Ayu dan Melati berangkat pada hari Sabtu 9 November 2013. Pesawat GA 666 menerbangkan kami menuju Juanda International Airport. Tepat pukul 07.15 Garuda mendarat mulus di Juanda. Belum juga pesawat berhenti secara total, tetapi banyak penumpang yang sudah kasak-kusuk menyalakan handphone serta membuka sabuk pengaman. Argh…lagi-lagi kita masih di Indonesia Bung. Bukannya menertawai bangsa sendiri tapi lebih kepada sangat miris dengan kelakukan orang-orang tentang rendahnya disiplin diri. Saya hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka. Apa sih susahnya menunggu pesawat berhenti secara benar lalu membuka sabuk pengaman dan menyalakan handphone dll. Dengan serta merta mereka tanpa rasa bersalah, entah menelpon siapa untuk mengumumkan bahwa mereka sudah tiba di kota A atau B. Err koq malah curhat tentang kelakuan penumpang pesawat sih.

Setelah agak lega dan lowong, rombongan kami pun segera turun ke terminal kedatangan. Ritual ke kamar kecilpun selalu menjadi kegiatan pertama sesaat memasuki terminal kedatangan. Biarlah bagasi kami berputar-putar mencari si empunya tas. Tidak memakan waktu lama, urusan bagasipun beres. Rental mobil yang kami pakai jasanya juga sudah menunggu dengan manisnya di depan pintu keluar kedatangan. Berharap trip kali ini, tidak ada drama yang berperan di dalamnya. 🙂

Hari masih terbilang cukup pagi sesaat kami meninggalkan Juanda International Airport. Segera saya buka itinerary yang sudah disusun jauh hari sebelum berangkat. Waktu kami di Surabaya hanya sebentar. Selebihnya kami akan menuju Malang untuk trip selanjutnya. Di Surabaya kami hanya numpang lewat sembari mengunjungi objek wisata sejarah dan mencicipi kuliner-kulinernya. Pun untuk kopdar dengan teman-teman dari Komunitas Isat-BB tidak sempat untuk dilakukan. Saya janji, next time ke Surabaya akan menyempatkan kopdar khusus dengan mereka 🙂

Berwisata kuliner hingga ke Madura

Rasanya kurang lengkap jika sudah berada di Surabaya tapi tidak menyempatkan ke Madura. Saya sudah beberapa kali ke Surabaya tetapi ke Madura belum pernah sekalipun. Sejak masih jaman kuliah semester-semester awal dulu, ke Surabaya adalah kegiatan liburan rutin yang acap kali saya lakukan. Secara, paman saya pernah bertugas selama tiga tahun di Surabaya. Nah kesempatan itu saya gunakan untuk selalu mengunjungi Surabaya. Alih-alih dengan menggunakan alasan kangen sama sepupu-sepupu yang memang cukup dekat dengan saya waktu itu *modus*

Bebek Sinjay

Mungkin karena jaman itu akses ke Madura belum segampang sekarang. Jadilah tidak pernah terpikir untuk menjejak Madura. Pun akses internet belum semudah sekarang, sehingga belum ada om google yang kerap membantu. Maka, trip ke Surabaya ini sangat sayang dilewatkan jika tidak menjejak Madura. Jadilah pagi itu kami menuju Bangkalan Madura. Tujuan utamanya sih, penasaran dengan happening-nya bebek Sinjay serta jembatan Suramadu.

Ayu dan Melati manut aja dengan apa yang saya putuskan, mereka typical orang yang terima beres saja. Naluri pejalan yang saya punyai, berkembang bebas tanpa ada keluhan dari mereka. Mungkin karena masih terlalu pagi, rasa cape belumlah terasa. Tapi tunggu saja jika sudah rasa cape sudah menunggangi, mereka akan mengeluh ini dan itu. Dan semua yang harusnya mudah dijadikan masalah.  Jika sudah begitu, drama akan berkembang menjadi part sekian-sekian. Sudah mahfum dengan kebiasaan sahabat-sahabat saya, bukan hal baru lagi dengan kelakuan mereka yang seperti itu.

Jembatan Suramadu

Menurut wikipedia, Jembatan Nasional Suramadu adalah jembatan yang melintasi Selat Madura, menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Madura, Indonesia. Dengan panjang 5.438 m, jembatan ini merupakan jembatan terpanjang di Indonesia saat ini. Kurang lebih 45 menit kami memasuki jembatan Suramadu. Tapi sayangnya kami tidak bisa menyalurkan hasrat narsis karena tidak diperbolehkan untuk berhenti di area jembatan. Jadilah saya mengabadikan gambarnya dari atas mobil saja. Well…meski tidak bisa berhenti di area jembatan, setidaknya saya sudah merasa puas karna sudah menyaksikan jembatan Suramadu yang terkenal itu.

Memasuki kawasan Madura, auranya berasa beda. Layaknya sedang melintasi Jeneponto. Madura dan Jeneponto memiliki kesamaan. Sama-sama daerah penghasil garam. Madura kelihatan gersang dan kering, pun Jeneponto juga seperti itu. Saya mendadak dejavu. Perbedaannya hanyalah potensi kuliner di Madura lebih beragam. Dan Madura memiliki kuliner khas yang orang-orang rela pergi jauh untuk mencicipinya. Seperti saya dkk telah lakukan.

Bebek Sinjay adalah ikon kuliner Madura. Saya bukanlah fans berat dari kuliner bebek. Tetapi saya lebih kepada ingin memuaskan hasrat penasaran tentang ikon kuliner yang satu ini. Sebenarnya sepanjangan jalan menuju Bangkalan Madura, berderet berbagai macam brand yang menawarkan kuliner bebek Madura. Tetapi tetap memilih bebek Sinjay yang lumayan jauh untuk dicapai. Kapan lagi merasakan dan menyaksikan sendiri kalau tidak bergerak untuk mencari.

Sepintas kata “Sinjay” mengingatkan saya pada kampung halaman tercinta. Hanya beda pada huruf terakhirnya. Jika iseng mengetik di halaman mesin pencari dengan kata “Sinjai” maka info-info tentang bebek Sinjay akan kerap tersajikan. Makanya banyak yang salah sangka kalau Sinjai itu ada hubungannya dengan bebek Sinjay. Entah siapa yang mencontek siapa? 😀

Sekitar pukul sembilan pagi kami tiba di lokasi bebek Sinjay. Penampakan warungnya biasa-biasa saja. Masih cukup sepi ketika kami memasuki warung. Hanya ada beberapa meja yang terisi. Rombongan kami langsung mencari tempat duduk yang lowong. Ternyata sistem pelayanan di bebek Sinjay cukup unik. Semuanya serba self service. Mungkin mereka meniru sistem pelayanan dari restaurant junk food seperti KFC dan sejenisnya.

Beruntung driver kami memberi tahu tata cara pemesanannya. Sistem di bebek Sinjay, jika memasuki warung, langsung saja ke meja kasir memesan dan langsung membayarnya. Dan kunjungan ke bebek Sinjay sekaligus melanggar aturan hidup sehat ala saya. Dua tahun belakangan ini saya berusaha mendisiplinkan diri untuk tidak sarapan dengan makanan-makanan berat. Kecuali sarapan dengan buah-buahan segar serta shake dari herbalife.

Setelah urusan bayar membayar selesai, kamipun mencari tempat yang lowong. Tak begitu lama, pesanan kami datang. Sepiring nasi hangat yang pulen dan sepotong dada bebek goreng bener-bener siap merusak program diet yang selama ini saya jalani. Serta segumpal sambel mangga yang cukup menggoda. Suapan pertama membuat saya takjub. Sambelnya ternyata  pedis dan nendang. Tekstur dari daging bebek gorengnya memang lain dari yang lain. Anggapan bahwa daging bebek itu alot dan bau amis, tidak ditemukan pada bebek Sinjay ini. Dagingnya lembut serta bumbu yang meresap hingga ke setiap serat dagingnya. Gurih. Sebagai penikmat kuliner, saya memberi jempol pada suapan pertama. Maknyus kata pak Bondan. Seketika saya lupa pada deretan kaleng herbalife dkknya.

Sambil menikmati makanannya, saya mengamati keadaan sekeliling. Lama kelamaan pengunjung berdatangan silih berganti. Padahal hari masih terbilang cukup pagi. Belum waktunya makan siang. Dan sudah saya pastikan mereka adalah bukan penduduk lokal. Sama halnya dengan rombongan kami. Pantaslah tempat ini dibanjiri pengunjung dari luar karena memang bebeknya gurih dan menggoda selera. Konon katanya, jika berkunjung ke tempat ini di atas jam satu siang, maka yang kerap terjadi makanannya sudah habis.

Kelebihan belum tentu tak lepas dari kekurangan. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Panggilan alam mengharuskan saya harus ke kamar kecil. Saya salah satu orang yang jika ke suatu tempat selalu mencari kamar kecil. Sayangnya, nama besar bebek Sinjay tidak setenar dengan kebersihan kamar kecilnya. Saya urungkan niat untuk membuang air kecil. Selagi masih bisa ditahan, mending mencari pertamina di jalan pulang menuju Surabaya nantinya. Atau mungkin saya terlalu perfect dalam hal kamar kecil. Kadar kenyamanan tiap orang beda-beda. Jadi semua kembali ke personalnya.

Di balik kekurangannya, kenikmatan bebek Sinjay membuat saya ketagihan untuk menikmati kuliner itu. Sayangnya, bebek Sinjay tidak membuka cabang di manapun serta tidak melayani delivery order. Begitu kata plang yang terpampang depan warungnya. Jika memang sangat ngidam ingin menikmati kuliner bebek Sinjay, mau ngga mau harus berkunjung ke Bangkalan Madura. Mungkin suatu saat saya akan kembali ke tempat ini dan berharap kamar kecilnya sudah lebih kinclong lagi. Jadi kapan kita ke Madura lagi?

About Ira Puspita

Check Also

#TravelWork-Bandung 2016 : Akhirnya ke Tangkuban Parahu

Sudah berkali-kali ke Bandung, namun belum sekalipun mengunjungi Tangkuban Parahu. Tahun 2015 lalu, saya  ke …

3 comments

  1. Saya tertarik dengan informasi mengenai artikel diatas.
    Selain itu, tulisan diatas sangat menarik untuk dipelajari yang dapat menambah wawasan kita mengenai kebudayaan di lndonesia.
    Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai Explore Indonesia yang bisa anda kunjungi di Explore Indonesia

  2. Menurut saya memang standar kebersihan dan kenyamanan kamar kecil di Indonesia masih jauh dari rasa nyaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

10 − 2 =