Home / Journey / #TourDeJava-Mengejar Sunrise di Pananjakan

#TourDeJava-Mengejar Sunrise di Pananjakan

Sunrise dan sunset adalah fenomena alam yang paling selalu saya cari. Saya jatuh cinta pada keduanya. Dan kali ini rela bepergian jauh demi sebuah sunrise yang menggetarkan jiwa. Bromo…kami datang untuk menyaksikan keindahan  alam dan matahari terbitmu!!!

Jam 01.00 dini hari, saat orang-orang sudah terlelap dalam tidurnya, kami  justru kasak-kusuk memulai perjalanan menuju kawasan Gunung Bromo. Saya sebenarnya sanksi dengan rencana ke Bromo ini. Secara sejak tiba di Malang, kondisi tubuh saya sedang sedang tidak fit. Tetapi sangat sayang rasanya jika membatalkan semuanya hanya karena sakit. Selama saya masih kuat untuk jalan, saya akan paksakan diri untuk tetap berangkat. Maka jadilah tengah itu kami memulai petualangan menuju Bromo.

Menikmati perjalanan dengan tidur, sejak berangkat dari hotel langsung tertidur begitu saja. Tidak berfikir lagi untuk melihat-lihat suasana sepanjang jalan menuju Bromo. Hanya sesekali membuka mata dan melihat kondisi jalan yang berkelok serta gelap. Daripada dihantui rasa was-was, lebih baik melanjutkan tidur agar tidak berfikir macam-macam. Jangan ditanya di deret kursi belakang, Ayu dan Melati sudah tidak terdengar suaranya sejak berangkat dari hotel. Saya pastikan mereka sedang  berpetualang dengan mimpi mereka masing-masing. Sebenarnya saya khawatir jika tertidur tanpa  menemani Pak Joko ngobrol, tapi apa daya saya tidak dapat menahan kantuk yang mendera.

Sekitar pukul 03.00 dini hari Pak Joko membangunkan kami. Ternyata kami sudah tiba di tempat terakhir mobil harus berhenti. Di sana sudah ada beberapa mobil Jeep terparkir menunggu tamunya datang. Mobil yang kami pakai dari Malang, hanya bisa mengantar sampai di situ. Untuk sampai di Pananjakan view point, kami harus memakai Jeep. Ternyata saat tiba, Jeep yang sudah kami sewa belum datang. Jadinya kami menunggu sambil melihat-lihat suasana sekitar. Saya yang sudah tertidur pulas dalam perjalanan tadinya kini segar diterpa udara dingin Gunung Bromo. Jaket yang saya pakai tidak membantu menghangatkan badan. Argh…saya salah bawa jaket. Pun pasmina tidak  menolong. Jadinya saya menggigil tak karuan menahan dingin.

Ayu dan Melati sedari tadi sibuk membeli perlengkapan seperti kaos tangan, masker dan syal. Saya malas bergabung bersama mereka secara saya paling tidak suka dikerubuti pedagangnya. Tidak beberapa lama, Jeep sewaan kami datang menjemput. Tanpa berfikir lama, kami bergegas naik ke Jeepdan berangkat ke Pananjakan. Pananjakan merupakan  view point  lokasi terbaik untuk melihat matahari terbit. Konon katanya Pananjakan adalah tempat di mana permaisuri kerajaan Majapahit, Rara Anteng dan Brahmana Joko Seger bertemu sebelum akhirnya menikah dan mempunyai keturunan berupa Suku Tengger.

Dan Penanjakan adalah tujuan utama setiap pengunjung  sekaligus spot pertama untuk mengabadikan momen matahari terbit. Medannya terletak di sebuah puncak bukit. Jeep harus menaiki jalan ke arah puncak Penanjakan dengan sudut elevasi yang sangat tajam dan sangat berliku. Melewati jalan ini sangat menguras adrenalin. Butuh kehati-hatian untuk melewatinya karena di sebelah kiri jurang curam seakan selalu siap menelan siapa saja yang lewat jika tak awas. Horor!!! Tapi, driver Jeep Bromo sangat lihai.  Mereka sudah sangat hapal lekuk-lekuk jalan di lereng kawasan Bromo.

Jeep berhenti tak jauh dari lokasi gerbang Pananjakan view point. Bersyukur karena tidak terlalu banyakJeep yang berjejer di tepi jalan. Menurut drivernya, biasanya kalau musim liburan dan weekend, mobil  parkir jauh dari lokasi saking padatnya pengunjung. Selain Jeep, banyak ojek yang lalu-lalang siap mengantarkan ke Pananjakan view point. Tetapi jika memilih naik ojek, harus siap-siap menggigil sepanjang jalan. Udara dingin lebih menggigit ketika kami menanjak menuju Pananjakan view point. 

Jaket sudah tertutup rapat, masker sudah terpasang namun dinginnya tetap tembus hingga membuat saya menggigil dan sesak nafas. Tak tahan dengan dinginnya, saya akhirnya menyewa jaket tebal. Sayatyphical orang yang paling tidak terbiasa memakai pakaian orang lain, tapi karena situasinya beda terpaksalah saya melanggarnya. Namun tak lama, akhirnya saya lepas kembali karena  tidak tahan dengan penampakannya.

Meski matahari belum menampakkan sinarnya, di sisi kiri jalan naik menuju anak tangga, Bromo sudah memulai atraksinya. Semburat warna-warni sudah mulai terlihat. Indah…!!! Sesaat tiba di puncak Pananjakan, waktu shalat subuh pun tiba. Kami mampir di mushalla kecil yang tersedia di view point.  Jangan ditanya bagaimana dinginnya air saat berwudhu. Tangan sepertinya membeku dan kaku. Tapi semua itu terbayar saat melihat semburat warna-warni yang pertontonkan alam subuh itu.

Selepas menunaikan shalat subuh, bergegas kami bergabung di view point. Mencari tempat lowong untuk menyaksikan Bromo menampakkan sinarnya. Dalam View point itu  berjejer  bangku-bangku, dikelilingi pagar. Jadi berasa seperti mau nonton pertunjukan.

Ada perasaan tenteram dan dekat dengan alam saat berada di  puncak Pananjakan. Detik pun merambat, satu sinar menyerupai anak panah berwarna orange muncul dari cakrawala. Perlahan-lahan semburat itu makin merona merah dengan spektrum yang sangat menakjubkan. Efek magis seakan menghipnotis saya saat menyaksikan fenomena alam ini. Matahari yang merah, bundar besar seperti bola raksasa seakan membuka gerbang pagi dan seakan mengucapkan selamat pagi. Indah sekali. Sungguh ini pemandangan yang tak terlupakan. Suara shutter kamera saling bersahutan menyambut momen ini.

Speechless….Matahari terbit adalah simbol adanya sebuah pengharapan baru. Setiap harinya, setiap paginya, bumi berotasi, mengingatkan makhluk bumi bahwa harapan pada apapun masih selalu ada. Ini salah satu alasan menjadi penikmat matahari terbit.

Tak sampai di situ, atraksi masih terus berlanjut. Ketika perlahan sinar matahari menggantikan gelapnya subuh, maka terpampang dengan jelas sebuah lukisan alam yang terdiri dari Gunung Bromo, Gunung Batok dan Gunung Semeru. Susunan gunung-gunung tersebut sangat indah dengan karakteristiknya masing-masing. Batok dengan lajur-lajur hijaunya serta puncak landainya, Bromo dengan kawah lebar dan kepulan asap bersaing dengan awan yang menyelimutinya serta Semeru dengan asapnya yang tak henti nampak menjulang dari kejauhan. Sungguh, sebuah lukisan alam yang sangat sempurna dari Sang Pencipta.

Jam merambat ke pukul enam pagi, tetapi tubuh  masih dibalut dingin yang membeku. Sedikit demi sedikit pengunjung mulai meninggalkan view point ini. Meski suasana mulai sepi tetapi kami masih betah berada di Pananjakan. Tentunya mengabadikan semua pemandangan indah sekitarnya. Karena di Penanjakan View Point inilah, landscape Bromo secara detil bisa diabadikan.  Setelah puas, kami pun bergegas meninggalkan view point. Dan rombongan kami adalah yang terakhir meninggalkan lokasi tersebut.

Suasana dingin rentan membuat lapar. Beruntunglah di kiri-kanan jalan turun, banyak kios-kios yang menyediakan makanan ringan. Kami mampir untuk menghangatkan badan dengan menikmati Pop Mie Panas yang meski beberapa detik setelah disiram air panas, Pop Mie berangsur dingin. Tetapi rasanya tetap nikmat. Dalam keadaan lapar, apapun makanannya pasti akan terasa lebih nikmat.

About Ira Puspita

Check Also

#TravelWork-Bandung 2016 : Akhirnya ke Tangkuban Parahu

Sudah berkali-kali ke Bandung, namun belum sekalipun mengunjungi Tangkuban Parahu. Tahun 2015 lalu, saya  ke …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen − one =