Home / Journey / #TourDeJava – [Part 1] 8 Jam di Surabaya

#TourDeJava – [Part 1] 8 Jam di Surabaya

Menyambung  postingan saya sebelumnya di sini, masih tentang rangkaian #TourDejava. Kali ini saya akan bercerita tentang perjalanan trip saya dan sahabat-sahabat tercinta selama 8 jam berada di Surabaya. Sepulang dari Madura, perjalanan tetap berlanjut. Lumayan…perut sudah terisi dengan sajian bebek Sinjay. Maka tenaga untuk berpesiar di Surabaya masihlah full charger jika disamakan dengan gadget.

Hari mulai beranjak siang ketika kami memasuki kota Surabaya. Disambut dengan udara yang panas dan gerah. Surabaya terkenal dengan kotanya panas. Jika berada di udara terbuka, keringat akan sangat mudah berkucuran. Seperti siang itu ketika kami berkunjung ke Museum Kapal Selam. Matahari garang menyambut kedatangan kami di Museum Kapal Selam. Tidak sanggup rasanya jika tidak mengenakansunglasses.  Entah berapa derajat panasnya kota Surabaya. Hanya merasakan adem ketika berada di dalam mobil yang ac-nya sudah disetel sekencang mungkin.

Surabaya….meski hanya delapan jam tetapi sungguh berkesan. Menyempatkan diri untuk berwisata sejarah serta menikmati wisata kulinernya. Pun itu tidak semua tempat-tempat yang telah direkomendasikan cukup waktunya untuk dikunjungi. Nah ke mana saja  selama 8 jam di Surabaya?

Museum Kapal Selam

Selamat datang di Monumen Kapal Selam

Seperti yang pernah saya ceritakan bahwa sudah beberapa kali saya berkunjung ke Surabaya, tetapi berkunjung ke Museum Kapal Selam adalah kali pertama. Maklumlah, jaman waktu masih bolak balik ke Surabaya beberapa tahun lalu itu saya masih jadi anak manis yang manut apa kata orang tua. *pencitraan* Setiap ke Surabaya, keluar rumah itu jika hanya bareng dengan keluarga. Tidak diijinkan untuk ke mana-mana sendiri. Jadilah hanya kompleks dan daerah sekitar kompleks yang saya kenal. Beruntung kompleks tempat tinggal paman saya, tersedia beberapa fasilitas-fasilitas yang bisa dijadikan pembunuh waktu jika mulai jenuh. Makanya saat menyusun itinerary #TourDeJava ini, museum kapal selam saya masukkan sebagai tempat yang wajib untuk dikunjungi.

Menurut wikipedia, Monumen Kapal Selam adalah sebuah museum kapal selam yang terdapat di Embong Kaliasin, Genteng, Surabaya. Terletak di pusat kota, monumen ini sebenarnya merupakan kapal selam KRI Pasopati 410, salah satu armada Angkatan Laut Republik Indonesia buatan Uni Soviet tahun 1952. Kapal selam ini pernah dilibatkan dalam Pertempuran Laut Aru untuk membebaskan Irian Barat dari pendudukan Belanda. Kapal Selam ini kemudian dibawa ke darat dan dijadikan monumen untuk memperingati keberanian pahlawan Indonesia. Monumen ini berada di Jalan Pemuda, tepat di sebelah Plasa Surabaya. Selain itu di tempat ini juga terdapat sebuah pemutaran film, menampilkan proses peperangan yang terjadi di Laut Aru.

Untuk masuk ke area museum, diwajibkan untuk membeli tiket seharga lima ribu rupiah per orangnya. Dengan tergesa-gesa saya melangkah masuk karena harus mencari kamar kecil. Yap….saya kebelet. Alarm tubuh memberikan kode kalau ada yang tidak beres dengan perut saya. Beruntung tidak ada  pengunjung lain yang akan menggunakan kamar kecilnya. Maka bebaslah saya melenggang menggunakan fasilitasnya. *lega*Setelah semuanya beres, barulah saya beserta rombongan kecil kami naik ke kapal selam.

KRI Pasopati 410 layaknya seperti kapal yang terdampar di tengah kota. Kapalnya tidak terlalu besar, kapasitas penumpang yang mampu dimuat hanyalah untuk 63 penumpang beserta komandannya. Ruangan dalam kapal  tentunya sangat sempit. Jika banyak pengunjung, maka harus siap untuk berdesak-desakan.

Interior dalam KRI Pasopati 410 dipenuhi dengan panel-panel dan tuas  peralatan dan perlengkapan kapal selam. Juga terdapat peralatan navigasi, ada ruang tinggal perwira, ruang periskop, ruang Anak Buah Kapal, ruang listrik, ruang diesel dan ruang torpedo buritan serta kamar khusus untuk kapten yang kira-kira berukuran 2 x 1,5 meter, yang hanya berisi dipan, lemari, meja dan kursi.

Menyusuri rungan dalam kapal selam, sesekali harus menundukan badan ketika melewati lubang  pintu antar ruangan yang cukup kecil dan sempit. Sebagai pemilik badan besar (baca ndud) saya tentunya harus berjuang melewatinya. *ngaku* Pada bagian akhir perjalanan terdapat ruangan kapal selam bagian buritan. Di ruangan ini terdapat peralatan dan perlengkapan peluncur torpedo propeller dengan bentuknya yang besar, bundar dan panjang.

Petualangan menyusuri lorong KRI Pasopati 410 menyimpan cerita tersendiri. Keseruan-keseruan menyusuri lorongnya yang sempit serta cerita dari sejarah kapal selam itu sendiri.

Setelah puas menyusuri dan mengabadikan kapal selam, kamipun beranjak meninggal museum. Masih banyak destinasi yang akan dikunjungi. Pengetahuan tentang sejarah bertambah pun pengalaman mengunjunginya. Bukankah seperti itu yang dicari dalam setiap  perjalanan? Ada kepuasan tersendiri setelah menyaksikan dan menjalaninya.

To be continued…!!!

About Ira Puspita

Check Also

#TravelWork-Bandung 2016 : Akhirnya ke Tangkuban Parahu

Sudah berkali-kali ke Bandung, namun belum sekalipun mengunjungi Tangkuban Parahu. Tahun 2015 lalu, saya  ke …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × five =