Home / Journey / #TourDeJava – [Part 2] 8 Jam di Surabaya

#TourDeJava – [Part 2] 8 Jam di Surabaya

Postingan ini masih dalam rangkaian #TourDeJava yang masih di seputaran Surabaya. Meski hanya mempunyai waktu yang sedikit untuk mengitari Surabaya tetapi diusahakan semaksimal mungkin mengunjungi semua itinerary yang sudah tersusun. Jika dihitung-hitung, hanya delapan jam saja kami berada di Surabaya. Ke mana saja selama delapan jam itu? Yang pasti berwisata sejarah dan tentunya wisata kuliner selalu menjadi nomer satu. Postingan sebelumnya sudah diulas tentang wisata kuliner di Madura dan mengunjungi Monumen Kapal Selam.

Masjid Cheng Ho

Matahari bersinar garang saat kami meninggalkan Museum Kapal Selam. Keringat bercucuran saking panasnya Surabaya siang itu. Kami melanjutkan perjalanan menuju Mesjid Cheng Ho yang berada di jalan gading Kecamatan genting, Surabaya. Saya penasaran dengan mesjid yang bernuansa Muslim Tionghoa tersebut. Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit kami tiba di Mesjid Cheng Ho. Sesaat kami tiba bertepatan dengan waktu untuk shalat dhuzur tiba. Timingnya pas karena sekalian bisa shalat dhuzur dulu.

Masjid Cheng Ho ini terbilang cukup unik. Meski ukurannya tidak terlalu besar tetapi mempunyai bentuk yang artistik. Bentuk bangunannya menyerupai klenteng. Warna yang ditonjolkan didominasi dengan warna merah, hijau dan kuning. Ornamennya sangat kental bernuansa Tiongkok. Pintu masuknya menyerupai bentuk pagoda, terdapat juga relief naga dan patung singa dengan lafadz Allah dalam huruf Arab di puncak pagoda. Di sisi kiri bangunan terdapat sebuah beduk sebagai pelengkap bangunan masjid. Jamaah yang akan melaksanakan shalat dhuzur ternyata cukup banyak.  Seluruh shaf untuk jamaah laki-laki dan perempuan terisi penuh. Bahkan nyaris himpit-himpitan. Sebagian jamaah adalah pengunjung yang ingin menyaksikan Mesjid Cheng Ho itu sendiri. Setelah shalat, saya mengabadikan beberapa gambar sebagai bukti bahwa saya pernah menjejakkan kaki di Mesjid itu.

Zangrandi Es Cream

Setelah puas menyalurkan hasrat narsis di Mesjid Cheng Ho, kami melanjutkan trip Surabaya menuju  Zangrandi Es Cream yang fenomenal. Cuacanya sangat pas untuk menikmati es cream. Tenggorokan kering berputar-putar di siang bolong. Belum lengkap rasanya ke Surabaya  jika tidak menikmati kulineran tempo doloe yang disajikan di sini. Sebagai penikmat kuliner, maka wajib memasukkan Zangrandi Ice Cream ke dalam daftar itinerary. Zangrandi Es Cream merupakan kedai es cream  tertua di Surabaya yang didirikan tahun 1930 oleh Retno Zangrandi yang berasal dari Italia.

Kesan pertama saat memasuki Zangrandi, aura klasiknya sangat terasa. Desain interiornya bergaya Belanda jaman dulu. Siang itu, pengunjungnya terbilang ramai. Sejak memasuki area kedai es ini, saya merasa betah. Sebagai penggemar nongkrong, saya menyukai suasana yang ada di Zangrandi Es Cream itu. Bawaannya betah dan pengen duduk lama. Tapi sayangnya, waktu kami hanya sedikit. Jadilah kami bergegas memesan es cream sesuai selera masing-masing. Soal rasa, es creamnya enak. Buktinya saya bisa menghabiskan beberapa scoop dengan berbagai rasa. Bener-bener program diet terlupa untuk sementara.

House Of Sampoerna

Setelah puas menikmati es cream di Zangrandi, kami melanjutkan perjalanan  menuju House of Sampoerna. Pun ini kunjungan saya yang pertama kalinya. Bener-bener Surabaya siang itu super panasnya. Tetapi tidak mengurangi semangat untuk menikmati wisata sejarah yang ada di House of Sampoerna. Meski bukan perokok, tapi penasaran juga ingin melihat sendiri pabrik rokok pertama milik keluarga Sampoerna dan ingin tahu sejarah rokok di Indonesia. Dengan mengunjungi HOS maka sedikit pengetahuan tentang rokok akan ditemukan di tempat itu. Kesan yang saya tangkap mengunjungi HOS adalah betapa gigih, disiplin tinggi dan ulet yang dimiliki pendiri Sampoerna sehingga mampu menghasilkan salah satu bisnis yang paling sukses di Indonesia. Bangunannya juga masih mempertahankan bentuk bangunan kolonial Belanda. Memasuki area House of Sampoerna, berasa kita terbawa pada masa-masa tempo doloe. Ini ditandai dengan banyaknya benda-benda langka dan klasik yang dipamerkan di area museum. Dan ini adalah kesempatan bagus untuk menyalurkan hasrat narsis. *mencari pembenaran*

Rawon Setan

Setelah berputar-putar dari satu tempat ke tempat lainnya, sepertinya perut kembali kosong dan meminta haknya untuk diisi. Rawon setan adalah salah satu kuliner yang terkenal di Surabaya. Namanya kedengaran menyeramkan, semoga rasanya tidak seseram namanya. Lagi-lagi makanannya ternyata pedesnya nendang juga. Dalam sehari, perut dijejali dengan makanan pedes-pedes. Beruntung saat sampai di Rawon Setan, tempatnya banyak yang lowong. Mungkin karena hari sudah sore, jam makan siang sudah lewat. Tempat ini salah satu ikon kuliner yang dimiliki Surabaya.

Soal cita rasa, rawon setan menurut saya sih “biasa aja”. Atau mungkin sudah terbiasa dengan lidah Makassar yang selalu dijejali dengan makanan seperti coto, konro dll. Jadi saat menikmati rawon setan, tidak kaget karena sudah terbiasa menikmati yang lebih enak dari rawon itu sendiri. Tapi saya tidak menyesal ke tempat itu, setidaknya saya sudah pernah merasakan dan menyaksikan ikon kuliner yang terkenal di Surabaya. Impas…dan jangan tanya soal harganya, karena bukan saya yang bagian bayar-membayar saat berkunjung ke rawon setan.

Pusat Ole-Ole Khas Surabaya

Sudah menjadi kebiasaan jika berkunjung ke suatu tempat, selalu mencari ole-ole khas daerah tersebut. Pun dengan trip #TourDeJava kali ini. Target ole-ole yang sudah dicatat adalah kerupuk udang. Maka meluncurlah kami ke daerah Pasar Genteng. Sesampai di daerah Pasar Genteng, rasa kalap untuk membeli semua jenis ole-ole. Tetapi penyakit komsumtif itu, saya tekan agar tidak hilang akal terlalu jauh. Kasian dompetnya kalau harus terkuras dengan nafsu belanja yang membuat puas sementara waktu saja. Setelah target kerupuk udang beres, bergegas kami meninggalkan area Pasar Genteng sebelum hilang akalnya tidak terkendali.

Hari semakin sore setelah beranjak dari Pasar Genteng. Melati dan Ayu sepertinya sudah mulai lowbatt. Rasa capenya tidak dapat ditolerir lagi. Kamipun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Malang. Sepertinya tubuh saya juga sudah mengirimkan sinyal-sinyal kalau ada yang tidak beres. Tapi saya berusaha menepis dan tetap semangat untuk menikmati perjalanan. Malang….tunggu kami yah!

About Ira Puspita

Check Also

#TravelWork-Bandung 2016 : Akhirnya ke Tangkuban Parahu

Sudah berkali-kali ke Bandung, namun belum sekalipun mengunjungi Tangkuban Parahu. Tahun 2015 lalu, saya  ke …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four + twenty =