Home / Journey / #TravelWork-Bandung 2016 : Akhirnya ke Tangkuban Parahu

#TravelWork-Bandung 2016 : Akhirnya ke Tangkuban Parahu

Sudah berkali-kali ke Bandung, namun belum sekalipun mengunjungi Tangkuban Parahu. Tahun 2015 lalu, saya  ke Lembang untuk mengikuti diklat di BBPPK. Selama delapan hari mengikuti diklat tapi tak ada kesempatan untuk ke Tangkuban Parahu. Padahal jaraknya sudah dekat dari tempat saya mengikuti diklat. Banyak yang mengatakan bahwa jika sudah berkunjung ke Bandung, tak lengkap rasanya jika belum ke Gunung Tangkuban Parahu.

Kawah Ratu

Saya tertantang dengan kata-kata itu dan bertekad, apapun yang terjadi saya harus ke Tangkuban Parahu. Tidak mau melewatkan lagi momen ini. Akhirnya 30 Juli 2016 keinginan yang tertunda itu terwujud. Rela bangun subuh melawan dinginnya Lembang dan membangunkan semua teman-teman yang akan ikut. Butuh perjuangan untuk membangunkan mereka. Dengan menggunakan angkot carteran, kami menyusuri jalan yang berliku. Cuaca cerah dan langit biru menemani perjalanan kami. Pemandangan kiri kanan jalan disuguhi  hamparan hijaunya kebun teh dan barisan pohon pinus yang tertata rapi. Betapa ciptaan Tuhan memang selalu mengagumkan.

IDR 30

Tidak butuh waktu lama untuk tiba di Tangkuban Parahu. Karena saya dan rombongan datang pada saat weekend, maka biaya karcis masuk seharga Rp. 30.000/orang untuk wisatawan domestik sedangkan untuk wisatawan mancanegara dikenai harga karcis Rp. 300.000/orang.

Sekilas Tentang Tangkuban Parahu

Tangkuban Parahu merupakan gunung berapi yang berada di Jawa Barat tepatnya terletak di  Subang, dengan ketinggian 2084 meter di atas permukaan laut. Wow….berarti saya sudah berhasil naik ke gunung yang tingginya 2084 mdpl dong ah*bangga* halah….hahaha. Tangkuban Parahu terkenal dengan kisah legendanya. Konon legenda tersebut berkisah tentang terbentuknya Gunung Tangkuban Parahu. Adalah Sangkuriang yang jatuh cinta kepada wanita yang tak lain adalah ibu kandungnya sendiri yang bernama Dayang Sumbi. Cinta Sangkuriang ditolak oleh Dayang Sumbi karena Dayang Sumbi tahu kalo Sangkuriang adalah anaknya sendiri.

Namun Sangkuriang tidak serta merta menerima penolakan Dayang Sumbi. Ia tetap bersikukuh untuk memperistri Dayang Sumbi. Akhirnya Dayang Sumbi mengajukan syarat yang tidak logis. Jikalau ingin menikahinya, Sangkuriang harus membuat danau beserta perahu yang sangat besar dalam semalam. Atas nama cinta, Sangkuriang menyanggupi syarat itu. Dengan gigih ia pun membuat danau beserta perahu yang sangat besar.

Menjelang pagi, pekerjaan Sangkuriang hampir selesai. Namun di sisi lain, Dayang Sumbi berdoa agar matahari terbit lebih cepat. Dengan kekuatan doa yang dipanjatkan, akhirnya doa Dayang Sumbi pun terkabul. Matahari terbit lebih cepat dan Sangkuriang belum berhasil menyelesaikan pekerjaanya. Sangkuriang pun marah dan menendang perahu tersebut hingga terbalik. Dari perahu terbalik itulah, kemudian dikenal dengan Gunung Tangkuban Parahu. Jika dilihat dari Kota Bandung, Gunung Tangkuban Parahu akan terlihat seperti perahu tertelungkup.

Bagaimana Caranya ke Tangkuban Perahu?

Untuk bisa sampai pada objek wisata Gunung Tangkuban Perahu sangatlah mudah. Bila menggunakan kendaraan pribadi, kita harus mengarah ke utara atau ke arah Ciater atau Subang. Ambil rute Bandung-Lembang-Jl.Tangkuban Perahu Raya, jaraknya sekira 25 km dari kota Bandung. Jaraknya memang dekat tetapi saat weekend, Bandung luar biasa macetnya. Jadi pandai-pandailah menyiasati waktu agar tidak terhalang macet. Saya berangkatnya pagi dari Lembang, jadi arus lalu lintas aman-aman saja sepanjang jalan.

Ada banyak cara atau jalur bila kita ingin menggunakan angkutan umum. Jika dari Stasiun Hall Bandung, naik angkot St.Hall-Lembang. Sampai di Lembang, sambung dengan angkot Lembang-Cikole. Bisa juga dari Bandung langsung menuju terminal Ledeng, dari sini kita bisa naik angkutan umum menuju Subang (biasanya mobil ELF atau sejenis L300)

Apa yang Menarik di Tangkuban Perahu?

Saat turun dari angkot, udara dingin menyambut kami. Rasanya segar sekali dan menembus pori-pori. Karena kami datang saat weekend, obyek wisata  yang sarat legenda ini ramai dipadati pengunjung. Daya tarik utama dari tempat rekreasi yang satu ini tentu saja pesona alamnya yang sangat indah. Pemandangan kawah ditambah dengan dinginnya udara di sekitar  membuat merasa betah berada di sini. Di kawasan ini terdapat beberapa kawah, Kawah Ratu yang menjadi kawah utama, Kawah Domas, dan juga Kawah Upas.

Saya dan rombongan hanya sampai di Kawah Ratu. Waktu kami tidak banyak untuk mengelilingi kawah lainnya. Udara dingin dan aroma belerang menerpa. Jarang-jarang bisa menikmati suasana seperti ini. Saya menikmati momen ini dengan syahdunya. Berasa euforia karena bisa mewujudkan salah salah satu daftar tempat wisata yang harus dikunjungi *terharu biru lebam* #eh

Foto-foto adalah nyawa dari setiap cerita perjalanan. Tanpa foto semuanya akan menjadi hoax. Tak terhitung berapa banyak jepretan untuk mengabadikan semua momen. Tidak heran jika di mana-mana terlihat orang-orang yang sibuk foto-foto. Dalam rombongan kami, saya adalah tukang fotonya. Secara saya memang hobi motret dan hanya saya yang membawa kamera.

Cuaca yang dingin membuat naga-naga dalam perut selalu mengamuk. Namun jangan khawatir di sekitar area Kawah Ratu berjejer kios-kios yang menjajakan berbagai macam peganan. Lumayanlah untuk meredakan amukan naga-naga tersebut. Selain penjual makanan, pun aneka souvenir banyak yang dijual. Seperti kebiasaan-kebiasaan saya jika ke suatu tempat, tak lupa untuk membeli magnet kulkas sebagai bukti bahwa saya pernah menjejak tempat tersebut.

Setelah puas foto-foto dan  menikmati pemandangan alam yang mengagumkan di Tangkuban Parahu, akhirnya kami pulang. Masih banyak agenda yang harus diselesaikan. Rasanya tidak rugi bangun subuh dan menyempatkan waktu untuk ke sini. Saat perjalanan pulang kami mampir di hutan pinus Cikole. Apalagi kalau bukan untuk melampiaskan hasrat narsis kami yang super akut. Yeah…FOTO-FOTO! twink*

 

 

 

 

 

 

About Ira Puspita

Check Also

#TravelWork-Bandung 2016: Mengukir Kenangan di Floating Market

Floating market sama persis ceritanya dengan Tangkuban Parahu.  Meski sudah sangat dekat dari asrama tempat …

6 comments

  1. CIye terhapus lagi satu daftar travel wishlist dih 😀

  2. Duh …. kk Ira pelihara naga dalam perut? 😀 😀 😀

  3. #TravelWork-Bandung 2016: Mengukir Kenangan di Floating Market..mengukir luka di hati ini…lembang jilid 3,twin of tersanjung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × 4 =